<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>JanuarSW.com &#187; Leadership</title>
	<atom:link href="http://januarsw.com/category/leadership/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://januarsw.com</link>
	<description>Cakrawala : membuka fikir, menata hati</description>
	<lastBuildDate>Sat, 28 Jan 2012 08:33:34 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Segeralah Mengakui Kesalahan Anda</title>
		<link>http://januarsw.com/2009/01/segeralah-mengakui-kesalahan-anda/</link>
		<comments>http://januarsw.com/2009/01/segeralah-mengakui-kesalahan-anda/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Jan 2009 00:49:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>januar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Leadership]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://januarsw.com/?p=70</guid>
		<description><![CDATA[Renungan Pemimpin:
SEGERALAH MENGAKUI KESALAHAN ANDA
Bruce Hyland dan Merle 
Dengan mengakui kesalahan-kesalahan Anda bisa menjernihkan suasana dan
menyampaikan pesan penting mengenai tanggung jawab.
Renungan:
Jika anda membuat begitu banyak kesalahan sehingga mengakui satu-dua saja
anda enggan atau tidak bisa, masalahnya tidak terletak pada pengakuan. Kita
semua membuat kesalahan, jadi mengapa enggan mengakuinya?
Jika anda membuat kesalahan, akuilah. Penting sekali mengakui kesalahan ini
begitu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt; font-family: ">Renungan Pemimpin:<br />
SEGERALAH MENGAKUI KESALAHAN ANDA<br />
Bruce Hyland dan Merle </span></p>
<p><img class="alignleft" style="float: left; border: 1px solid black; margin-left: 4px; margin-right: 4px; margin-top: 2px; margin-bottom: 2px;" src="http://januarsw.com/wp-content/uploads/2009/01/leaderlogo1.gif" alt="" width="90" height="97" />Dengan mengakui kesalahan-kesalahan Anda bisa menjernihkan suasana dan<br />
menyampaikan pesan penting mengenai tanggung jawab.</p>
<p>Renungan:</p>
<p><span id="more-70"></span>Jika anda membuat begitu banyak kesalahan sehingga mengakui satu-dua saja<br />
anda enggan atau tidak bisa, masalahnya tidak terletak pada pengakuan. Kita<br />
semua membuat kesalahan, jadi mengapa enggan mengakuinya?</p>
<p>Jika anda membuat kesalahan, akuilah. Penting sekali mengakui kesalahan ini<br />
begitu anda menyadarinya, ketika kesalahan itu masih hangat-hangatnya<br />
dirasakan oleh banyak orang. Kalau tidak, akan terasa bahwa anda berusaha<br />
menimpakan kesalahan pada orang lain. Beritahukan pada pihak-pihak yang<br />
terlibat, apa yang bisa dan akan anda lakukan untuk meluruskan kesalahan<br />
itu. Jika kerugian akibat kesalahan itu tak mungkin dipulihkan, dan<br />
satu-satunya pengganti adalah permintaan maaf, maka sampaikan permintaan<br />
maaf anda.</p>
<p>Jarang sekali kesalahan lepas dari perhatian. Di samping itu, sebagian<br />
energi yang terbuang untuk berusaha menutup-nutupinya justru akan<br />
memperpanjang penderitaan batin dan meningkatkan kesumpekan dengan jalan<br />
mengalihkan waktu dan perhatian dari upaya memecahkannya. Jika anda mengakui<br />
kesalahan-kesalahan anda, karyawan akan membangun sikap hormat pada<br />
integritas, kejujuran dan kemanusiaan anda.</p>
<p>Bahan Renungan:</p>
<p>&#8211;Bagaimana Anda bereaksi ketika menyadari bahwa Anda telah melakukan<br />
kesalahan ?</p>
<p>&#8211;Bagaimana perasaan Anda setelah mengakui kesalahan, lega atau malah makin<br />
sumpek ?</p>
<p>&#8211;Berapa lama waktu yang Anda perlukan untuk mengakui kesalahan ?</p>
<p>(diadaptasi dari: Reflections for Managers)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://januarsw.com/2009/01/segeralah-mengakui-kesalahan-anda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seri Introspeksi Diri (8_selesai) : MENGGALI DARI BUMI NUSANTARA (2_habis)</title>
		<link>http://januarsw.com/2008/05/seri-introspeksi-diri-8_selesai-menggali-dari-bumi-nusantara-2_habis-2/</link>
		<comments>http://januarsw.com/2008/05/seri-introspeksi-diri-8_selesai-menggali-dari-bumi-nusantara-2_habis-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 May 2008 16:18:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>januar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Leadership]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://januarsw.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[Berikut adalah tulisan terakhir dari buku yang mengulas soal kepemimpinan Jawa ini yaitu  &#8221;Mengungkap dan Mengenal Budaya Jawa&#8221; karya Thomas Wiyasa Bratawijaya, pada Bab yang berjudul &#8220;Kepemimpinan Hasta Brata&#8221;. Sekaligus adalah Seri terakhir yang saya jadikan pamungkas dari Seri Introspeksi Diri di milis DPW ini.
Sebagai sebuah bahan introspeksi, mungkin 8 (delapan) serial selama ini amatlah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Berikut adalah tulisan terakhir dari buku yang mengulas soal kepemimpinan Jawa ini yaitu  &#8221;Mengungkap dan Mengenal Budaya Jawa&#8221; karya Thomas Wiyasa Bratawijaya, pada Bab yang berjudul &#8220;Kepemimpinan Hasta Brata&#8221;. </em><em>Sekaligus adalah Seri terakhir yang saya jadikan pamungkas dari Seri Introspeksi Diri di milis DPW ini.<span id="more-29"></span></em></p>
<p><em>Sebagai sebuah bahan introspeksi, mungkin 8 (delapan) serial selama ini amatlah sangat kurang. Masih banyak lagi mutiara yang harus digali dari berbagai sumber. Karena kebenaran itu tak memilih darimana ia muncul.</em></p>
<p><em>Namun, sebagai sebuah (pemicu) untuk meningkatkan kualitas kepemimpinan diri dan organisasi, mungkin bisa jadi starting point. Bahwa upaya meningkatkan kualitas kepemimpinan adalah upaya terus-menerus tanpa henti dan dimulai dari diri sendiri.</em></p>
<p><em>Singapura, 100 tahun la<img class="alignright" style="float: right; margin: 2px;" src="http://januarsw.com/wp-content/uploads/2008/11/leadership-full.jpg" alt="" width="333" height="271" />lu adalah sebuah daratan tandus dengan penghuni yang tak berperadaban. Tapi, 100 tahun kemudian, penduduk Singapura sudah dinobatkan menjadi warga dunia terhormat yang yang aturan-aturan negaranya dipakai dan diacu makhluk manusia di planet bumi ini. Singapura telah bertransformasi menjadi negara yang beradab, kuat sekaligus kaya. Meski miskin sumber daya, dan miskin jumlah penduduk. Kepemimpinan menjadi satu faktor dominan penyebabnya.</em></p>
<p><em> </em><em>Malaysia, baru 31 Desember 1965 merdeka dari Inggris. Bagaimanapun proses kemerdekaannya diperoleh, yaitu diberikan kemerdekaan dari Inggris raya, saat ini telah menjelma menjadi salah satu kekuatan penentu di Asia Tenggara. Dulu mereka belajar ke kita, sekarang kita belajar ke negeri jiran itu. Dulu mereka mencari kerja ke Indonesia, sekarang kita-lah yang mencari pekerjaan di sana. Meski untuk sekedar menjadi pembantu rumah tangga atau sekedar menjadi tenaga kasar di perkebunan kelapa sawit. Kepemimpinan, telah mengubah Malaysia menjadi seperti sekarang.</em></p>
<p><em> </em><em>Indonesia, 100 tahun lalu masih menjadi Hindia Belanda. Terjajah, miskin, bodoh, terbelakang dan tanpa identitas di muka bangsa-bangsa di dunia. 100 tahun kemudian, Indonesia sudah menjadi identitas kenegaraan tapi sebahagian rakyatnya masih miskin, bodoh, terbelakang, korupsi menjadi ‘budaya&#8217; dan menjadi ‘kuli&#8217; (baca : TKI, TKW) bagi bangsa-bangsa lain, persis seperti 100 tahun lalu. Enam puluh satu tahun sejak tahun 1945, kemerdekaan politik yang diperoleh tidak lantas mengubah, mentransformasi Indonesia untuk segera berbenah menjadi negara sejati yang mensejahterakan rakyatnya. Kepemimpinan, pun menjadi satu faktor penyebabnya.</em></p>
<p><em> </em><em>Pemimpin-pemimpin Indonesia saat ini tidak belajar dari sejarah. Padahal, Indonesia, Nusantara atau apa pun nama pra-Indonesia telah diwarisi oleh sebuah kekayaan batiniah luar biasa. Kita pernah menjadi Sriwijaya, yang armada lautnya begitu ditakuti di Asia. Kita pun pernah menjadi Majapahit yang kekuasaannya bahkan mencapai Madagaskar, Afrika bagian selatan.</em></p>
<p><em> </em><em>Nah, Para Sekarist yang terhormat,</em></p>
<p><em> </em><em>Sebagai bagian kecil dari lukisan Indonesia, dan sebagai bagian dari perjuangan kolektif kebangsaan, bersediakah kita menjadi mozaik yang memperindah Indonesia melalui Sekar Telkom atau Telkom ?</em></p>
<p><em> </em><em>Sebagai bagian kecil dari lukisan Indonesia, bersediakah kita menjadi mozaik yang memperindah Indonesia melalui DPP Sekar Telkom atau DPW-1, atau DPW-2, atau DPW-3, atau DPW-4, atau DPW-5, atau DPW-6, atau DPW-7, atau DPW-Wilsus, atau DPW Long Distance, ataupun DPW ESCIS? Ataupun melalui seratus DPD Sekar Telkom yang tersebar di seluruh Indonesia ?</em></p>
<p><em> </em><em>Wallahu&#8217;alam bissawab&#8230;</em></p>
<p><em> </em><em>Kebenaran hanya dariNYA, kesalahan pasti dari saya adanya. Semoga bermanfaat, mohon maaf bila alpa.</em></p>
<p><em>SEKAR !!!</em></p>
<p><em>Salam &#8220;membangun kembali soliditas dan solidaritas&#8221;,</em></p>
<p><em> </em><em>JSW</em></p>
<p><em>Berserikat Membuat Kita Kuat</em></p>
<p> * * *</p>
<p> HASTA BRATA #4/5<br />
SABDHA PANDHITA RATU<br />
Thomas Wiyasa Bratawijaya</p>
<p>Ungkapan ini selengkapnya berbunyi: &#8220;Sabdha Pandhita Ratu, sabdane Pandhita<br />
Pangandikane Ratu datan kena wola-wali&#8221;. Artinya apa yang telah diajarkan<br />
oleh Pandhita dan diucapkan oleh Raja tidak boleh diubah kembali, harus<br />
konsisten. Hal tersebut dikarenakan bahwa apa yang telah diajarkan oleh<br />
Pandhita sudah dijajaki kebenarannya sehingga tidak perlu diubah-ubah.<br />
Sedangkan apa yang telah diucapkan oleh Raja adalah keputusan yang sudah<br />
diproses, dianalisa dan dipertimbangkan masak-masak sehingga tidak perlu<br />
ditambahi atau dikurangi. tinggal melaksanakannya saja. Seorang pemimpin<br />
harus konsisten, yaitu harus ikut melaksanakan apa yang telah diucapkan.<br />
Kata-kata dan perbuatan harus selaras, tidak perlu ragu-ragu dan tidak<br />
terpengaruh oleh perasaaan saja. Karena bila seorang pemimpin sudah<br />
terpengaruh perasaan maka mudah lupa apa yang telah diucapkan.</p>
<p>Ada sementara orang yang berpendapat bahwa &#8220;Sabdha Pandhita Ratu&#8221; adalah<br />
otoriter yang mengarah pada tindakan seorang diktator. Pendapat ini kurang<br />
benar. Bagaimana pun seorang Raja harus membuat keputusan yang tepat, cermat<br />
serta cepat. Apa yang telah diputuskan sudah dipertimbangkan masak-masak dan<br />
dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu apa pun yang telah diputuskan<br />
oleh pemimpin harus dilaksanakan. Masyarakat Jawa sangat patuh pada apa yang<br />
telah diputuskan oleh pemimpinnya dan segera melaksanakannya dengan penuh<br />
perhatian. Hal ini bukan berarti orang Jawa hanya &#8220;sendika dhawuh&#8221;, atau<br />
hanya menurut perintah pimpinan saja, tetapi memang telah menyadari bahwa<br />
semua perintah dan keputusan pemimpin yang kurang dipahami perlu ditanyakan<br />
agar ia sebagai anak buah tidak salah dalam melaksanakan tugas yang<br />
diberikan.</p>
<p> * * *</p>
<p>HASTA BRATA #5/5<br />
BERBUDI BAWALEKSANA<br />
Thomas Wiyasa Bratawijaya</p>
<p>Sebenarnya ungkapan ini sebagai pelengkap ungkapan Sabdha Pandhita Ratu.<br />
Artinya berbudi, ber berarti lebih, budi berarti perilaku yang menyinggung<br />
nilai-nilai dan norma-norma luhur. Jadi seorang pemimpin harus memiliki<br />
kelebihan dalam tata nilai, moral dan budi luhur.</p>
<p>Bawaleksana artinya menepati janji atau sumpah yang telah diucapkan. Seorang<br />
pemimpin yang telah disumpah atau mengucapkan sumpah harus bermoral tinggi<br />
untuk secara konsekuen melaksanakan apa yang telah diucapkan dalam<br />
pelantikan sumpah jabatan. Berbudi dapat berarti seorang pemimpin harus<br />
bermurah hati, senang memberi bantuan kepada anak buahnya yang mengalami<br />
kesulitan. Tidak sebaliknya, seperti kenyataan sekarang, ada sementara<br />
pemimpin malah minta upeti kepada anak buahnya dengan mengatakan, &#8220;mana<br />
bagian saya?&#8221;</p>
<p>Bagi masyarakat Jawa, Bawaleksana memiliki nilai dasar yang luhur yaitu<br />
memuat nilai-nilai keadilan, kebenaran, kejujuran dan mental. Dengan prinsip<br />
ungkapan tersebut dalam menanggapi keadaan sekarang yang serba tidak<br />
mengenakkan, kita perlu bersikap tidak perlu melawan arus atau menentang<br />
arus, tetapi tidak boleh terbawa arus. Artinya, biarlah mereka berbuat<br />
curang, menyeleweng dan korupsi, tetapi diri kita sendiri tidak perlu<br />
ikut-ikutan. Yang jelas dengan memenuhi dan melaksanakan ungkapan<br />
Bawaleksanan kita hidup senang, banyak kawan dan itulah sugih tanpa bandha.</p>
<p>* * *</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://januarsw.com/2008/05/seri-introspeksi-diri-8_selesai-menggali-dari-bumi-nusantara-2_habis-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seri Introspeksi Diri (7/8) : MENGGALI DARI BUMI NUSANTARA</title>
		<link>http://januarsw.com/2008/05/seri-introspeksi-diri-78-menggali-dari-bumi-nusantara/</link>
		<comments>http://januarsw.com/2008/05/seri-introspeksi-diri-78-menggali-dari-bumi-nusantara/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 May 2008 09:51:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>januar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Leadership]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://januarsw.com/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[


SEKAR !!!
Kita berjumpa lagi. Setelah sempat ‘terhenti&#8217; beberapa waktu, kita sambung lagi diskursus kita di seri Introspeksi Diri ini. Masih tentang kepemimpinan, atau leadership yang akan selalu dan selalu menjadi topik hangat dalam komunitas masyarakat apapun latar budayanya.

Kali ini kita coba angkat nilai kepemimpinan di budaya Jawa. Bukan bermaksud mengunggulkan satu budaya lebih tinggi dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"><span style="font-size: 12pt; color: windowtext;"><em></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"><span style="font-size: 12pt; color: windowtext;"><em></em></span></p>
<div><em>SEKAR !!!</em></div>
<div><em>Kita berjumpa lagi. Setelah sempat ‘terhenti&#8217; beberapa waktu, kita sambung lagi diskursus kita di seri Introspeksi Diri ini. Masih tentang kepemimpinan, atau leadership yang akan selalu dan selalu menjadi topik hangat dalam komunitas masyarakat apapun latar budayanya.<span id="more-27"></span></em></div>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;">
<div><em>Kali ini kita coba angkat nilai kepemimpinan di budaya Jawa. Bukan bermaksud mengunggulkan satu budaya lebih tinggi dari budaya lain, tentunya. Tetapi hanya sebuah referensi. Bahwa di masa Orde Baru budaya Jawa pernah dijadikan ‘azimat&#8217; penguasa (baca : Soeharto) dalam mengendalikan Indonesia waktu itu. Banyak idiom-idiom kejawaan yang ia gunakan untuk melakukan pembenaran. Padahal, maksud sebenarnya tentulah bukan itu.</em></div>
<div><em>Rekan Sekarist pasti tahu ungkapan, ‘mikul dhuwur, mendhem jero&#8217; atau harfiahnya setinggi-tinggilah kalau mengangkat, sedalalam-dalamnya kalau menimbun seringkali dipakai Soeharto untuk ‘membekukan&#8217; lawan-lawan politiknya. Karena ungkapan inilah, Bapak Bangsa kita, Bung Karno, tidak pernah diadili. Statusnya diambangkan : tahanan politik, apa kesalahannya? Tahanan kriminal, apa kejahatannya ? Sukarno amat menderita di hari-hari terakhir hidupnya, di Wisma Yaso- Jakarta (sekarang Museum Satria Mandala). Diisolasi dan diputus dari sumber energi hidupnya, massa-rakyat.</em></div>
<div><em>Mungkin lain waktu kita angkat budaya kepemimpinan yang lain dari bumi nusantara yang begitu luas ini. Seperti, demokrasi asli Indonesia sebenarnya sudah jauh berurat akar di masyarakat Minang ketika memutuskan persoalan di masyarakat. Indonesia &#8211; dan dunia &#8211; sebetulnya harus berterima kasih kepada budaya Sumatera Barat ini. Tidak heran sebutlah Hatta, Muhammad Yamin, Sutan Sjahrir untuk menyebut tiga cendekia sekaligus pahlawan Indonesia yang lahir dari kultur demokratis Minang. Begitu juga bagaimana para pelaut Bugis yang gagah berani menaklukkan samudera, mewariskan kekerasan hati dan keteguhan sikap pada suku bangsa di daerah Celebes (Sulawesi) ini telah melahirkan Sultan Hasanuddin, Sang Ayam Jantan Dari Timur.</em></div>
<div><em>Masih banyak yang lain. Nah&#8230;kali ini, satu buku yang mengulas soal kepemimpinan Jawa ini yaitu &#8220;Mengungkap dan Mengenal Budaya Jawa&#8221; karya Thomas Wiyasa Bratawijaya, yang berjudul &#8220;Kepemimpinan Hasta Brata&#8221; akan kita sampaikan ke Sekarist yang terhormat sebagai referensi.</em></div>
<div><em>Siapa tahu bermanfaat.</em></div>
<div><em>Salam &#8220;membangun kembali soliditas dan solidaritas&#8221;,</em></div>
<div><em>JSW<br />
Berserikat Membuat Kita Kuat</em></div>
<div><em>* * *</em></div>
<p>SIFAT DASAR KEPEMIMPINAN<br />
Sifat dasar kepemimpinan ini selalu dilaksanakan oleh Sri Rama, raja<br />
Pancawati, yang disebut &#8220;Hasta Brata&#8221;. Hasta artinya delapan. Brata artinya<br />
perilaku atau sifat. Delapan sifat kepemimpinan tersebut adalah:</em></div>
<p>1&#8211;Sifat MATAHARI, matahari mengeluarkan panas, penuh energi dan memberi<br />
sarana untuk hidup. Seorang pemimpin harus mampu memberi motivasi, semangat,<br />
kehidupan dan kekuatan kepada seluruh anak buahnya.</p>
<p>2&#8211;Sifat BULAN, bulan bentuknya bulat indah, menarik hati dan bersifat<br />
menerangi di dalam kegelapan. Seorang pemimpin harus dapat menyenangkan,<br />
menarik hati dan memberi terang kepada anak buahnya.</p>
<p>3&#8211;Sifat BINTANG, bintang mempunyai bentuk indah dan menjadi hiasan langit<br />
di waktu malam, serta alat penunjuk arah. Seorang pemimpin harus dapat<br />
memberi petunjuk, pengarahan dan bimbingan agar anak buahnya mampu<br />
menyelesaikan tugas dengan baik. Bintang adalah lambang ingat dan mengabdi<br />
kepada Tuhan. Seorang pemimpin harus bertaqwa kepada Tuhan.</p>
<p>4&#8211;Sifat ANGIN, angin mempunyai sifat dapat mengisi setiap ruang yang<br />
kosong. Seorang pemimpin harus bertindak cermat dan teliti serta tidak<br />
segan-segan terjun langsung ke masyarakat. Selain itu, agar mampu membawa<br />
suasana menyenangkan.</p>
<p>5&#8211;Sifat API, api bersifat membakar apa saja yang bersentuhan dengannya dan<br />
tegas. Jadi seorang pemimpin harus mampu bertindak tegas dan adil tanpa<br />
pandang bulu. Di samping tegas, seorang pemimpin harus mempunyai prinsip<br />
konsisten serta dapat menahan emosi atau mengendalikan diri.</p>
<p>6&#8211;Sifat MENDUNG, mendung bersifat menakutkan, berwibawa, tetapi setelah<br />
berubah menjadi air atau hujan, dapat menyegarkan semua makhluk hidup.<br />
Seorang pemimpin harus menjaga kewibawaan dengan berbuat jujur, terbuka dan<br />
memberikan yang bermanfaat bagi anak buahnya.</p>
<p>7&#8211;Sifat SAMUDERA, samudera mempunyai sifat luas dan dapat menampung apa<br />
saja yang masuk ke dalamnya. Juga bersifat rata. Jadi seorang pemimpin harus<br />
mempunyai pandangan luas, adil, mampu menerima berbagai macam persoalan,<br />
tidak boleh pilih kasih, dan membenci golongan apa pun. Di samping itu,<br />
seorang pemimpin harus berbesar jiwa dengan memaafkan kesalahan orang lain.</p>
<p>8&#8211;Sifat BUMI, bumi mempunyai sifat teguh, sentosa dan apa yang ditanam akan<br />
menghasilkan yang bermanfaat untuk kehidupan. Jadi seorang pemimpin harus<br />
berteguh hati dan selalu mampu meberi anugerah kepada siapa saja yang<br />
berjasa.</p>
<p>***</p>
<p>HASTA BRATA #2/5<br />
PERAN KEPEMIMPINAN HASTA BRATA<br />
Thomas Wiyasa Bratawijaya</p>
<p>Berbagai peran yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin agar mendapat<br />
dukungan secara mantap dan bertahan lama, hendaknya berpegang pada sifat<br />
kepemimpinan yang dijalankan oleh Sri Rama yang disebut Hasta Brata tadi.<br />
Seorang pemimpin harus dapat menjadi perhatian. Bila kepemimpinannya tidak<br />
baik, tidak jujur dan berbuat korupsi jelas tidak mungkin dan tidak perlu<br />
menjadi panutan. Perilaku pemimpin Jawa yang dapat menjadi panutan harus<br />
mampu berperan atau berfungsi sebagai:</p>
<p>1&#8211;Komandan. Pemimpin harus mampu memerintah anak buahnya, bertindak tegas<br />
dan berani tampil ke depan. Ia harus berdisiplin diri sebelum mendisiplinkan<br />
anak buahnya, memberi arahan dan perintah disertai dengan petunjuk dan<br />
pedoman yang jelas.</p>
<p>2&#8211;Pelopor. Pemimpin harus kreatif, penuh inisiatif dan bila perlu tampil ke<br />
depan untuk membuka jalan dan mengatasi masalah yang timbul. Sebagai<br />
pelopor, pemimpin harus memiliki intelegensi yang cukup tinggi, cakap dan<br />
pandai mengatur strategi.</p>
<p>3&#8211;Bapak. Seorang pemimpin harus bijaksana dan adil. Pemimpin harus<br />
mengayomi anak buahnya, memberi harapan kehidupan yang bahagia dan menjamin<br />
kesejahteraan seluruh anak buahnya. Pemimpin harus mampu menciptakan suasana<br />
tenang, tentram dan damai sehingga anak buahnya dapat melaksanakan tugasnya<br />
dengan baik. Selain itu harus dapat membimbing anak buahnya agar dapat<br />
mandiri dan bekerja benar.</p>
<p>4&#8211;Ibu. Seorang pemimpin harus memiliki rasa kasih sayang. Ia harus dapat<br />
menampung aspirasi, keluhan, laporan dan informasi dari anak buahnya untuk<br />
dianalisa sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan.</p>
<p>5&#8211;Guru. Seorang pemimpin dituntut mampu memberikan pendidikan, pengajaran<br />
dan pelatihan pada anak buahnya guna kaderisasi. Guru merupakan sumber ilmu,<br />
karenanya seorang pemimpin harus selalu belajar agar ilmu pengetahuannya<br />
berkembang dan mempunyai visi yang jauh ke depan. Sebagai guru, seorang<br />
pemimpin harus sabar dan dapat menilai secara obyektif hasil karya anak<br />
buahnya.</p>
<p>6&#8211;Pandita. Seorang pemimpin harus taat dalam menjalankan ibadahnya dan<br />
mendorong anak buahnya untuk melaksanakan ibadahnya sesuai dengan agama dan<br />
kepercayaannya masing-masing. Pemimpin harus menanamkan moral, nilai-nilai<br />
dan norma-norma yang berlaku.</p>
<p>7&#8211;Sahabat. Seorang pemimpin tidak perlu menjaga jarak dengan menjauhkan<br />
diri dari anak buahnya. Sebagai sahabat, seorang pemimpin harus memiliki<br />
keakraban, tenggang rasa, berdialog dalam memecahkan masalah yang terjadi.<br />
Dengan keakraban, anak buah merasa dihargai sehingga timbul motivasi untuk<br />
bekerja lebih giat dan bersemangat.</p>
<p>8&#8211;Satria. Seorang pemimpin harus melindungi dan mau berkorban demi<br />
kebahagiaan anak buahnya. Yang terpenting dari seorang satria adalah rasa<br />
malu untuk berbuat curang, menyeleweng, melakukan korupsi dan<br />
menyalahgunakan wewenang.</p>
<p>Inilah yang perlu dikembangkan sebagai pemimpin panutan.</p>
<p>***</p>
<p>HASTA BRATA #3/5<br />
TRILOGI KEPEMIMPINAN<br />
Thomas Wiyasa Bratawijaya</p>
<p>Trilogi kepemimpinan ini sudah kita ketahui bersama, yaitu ajaran Ki Hadjar<br />
Dewantara yang sangat populer. Namun demikian dalam tulisan ini perlu saya<br />
ungkap secara sederhana. Isi trilogi tersebut adalah:</p>
<p>1&#8211;Ing ngarsa sung tuladha, artinya sebagai seorang pemimpin harus dapat<br />
memberikan teladan baik terhadap anak buahnya yaitu dengan cara berdisiplin,<br />
jujur, penuh toleransi dan bertindak adil.</p>
<p>2&#8211;Ing madya mangun karsa, artinya dalam melaksanakan tugas bersama-sama<br />
anak buahnya, seorang pemipmpin harus mampu memberikan motivasi agar anak<br />
buahnya senang melaksanakan tugas dengan baik. Pemimpin tidak hanya<br />
memerintah saja tetapi ikut melaksanakan tugas bersama-sama dengan anak<br />
buahnya agar sasaran dan tujuan bersama dapat tercapai dengan baik dan<br />
memuaskan.</p>
<p>3&#8211;Tut wuri handayani, artinya seorang pemimpin harus bisa mendelegasikan<br />
wewenang sesuai dengan kemampuan anak buahnya. Pemimpin harus memberikan<br />
kepercayaan penuh pada anak buahnya. Selama anak buahnya mampu melaksanakan<br />
tugas dengan baik, penui dedikasi dan tanggung jawab, maka pemimpin tinggal<br />
merestui saja.</p>
<p>Sayang sekali banyak orang mengartikan negatif pada ajaran yang begitu baik<br />
ini. Memang dalam penerapannya, banyak orang menyimpangkan trilogi<br />
kepemimpinan Jawa ini, sehingga berakibat melecehkan. Trilogi ini hanya<br />
ditulis derngan huruf-huruf yuang indah dengan bingkai mahal hanya sekedar<br />
penghias ruangan kantor saja. Tetapi dalam kenyataannya mereka menafsirkan<br />
secara sinis. Sebaiknya kita yang berbudaya tinggi bisa mengembalikan citra<br />
trilogi yang sebenarnya.(bersambung)</p>
<p>***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://januarsw.com/2008/05/seri-introspeksi-diri-78-menggali-dari-bumi-nusantara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seri Introspeksi Diri (6/8) : KATA-KATA ADALAH CAKRAWALA&#8230;.</title>
		<link>http://januarsw.com/2008/05/seri-introspeksi-diri-68-kata-kata-adalah-cakrawala/</link>
		<comments>http://januarsw.com/2008/05/seri-introspeksi-diri-68-kata-kata-adalah-cakrawala/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 May 2008 09:43:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>januar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Leadership]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://januarsw.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[* * *
Bayarlah upah buruhmu, sebelum kering keringatnya (Rasullullah Muhammad SAW)
Cintailah orang yang kau cintai sekedarnya saja; siapa tahu, pada suatu hari
kelak, ia akan berbalik menjadi orang yang kaubenci. Dan bencilah orang yang
kau benci sekedarnya saja; siapa tahu, pada suatu hari kelak, ia akan
menjadi orang yang kaucintai. (Imam Ali R.A.)
Satu-satunya hal yang harus kita takuti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>* * *<span id="more-26"></span><br />
Bayarlah upah buruhmu, sebelum kering keringatnya (Rasullullah Muhammad SAW)</p>
<p>Cintailah orang yang kau cintai sekedarnya saja; siapa tahu, pada suatu hari<br />
kelak, ia akan berbalik menjadi orang yang kaubenci. Dan bencilah orang yang<br />
kau benci sekedarnya saja; siapa tahu, pada suatu hari kelak, ia akan<br />
menjadi orang yang kaucintai. (Imam Ali R.A.)</p>
<p>Satu-satunya hal yang harus kita takuti adalah ketakutan itu sendiri.<br />
(Franklin D. Roosevelt)</p>
<p>Jangan pernah kita berunding karena takut, tetapi marilah kita tidak pernah<br />
takut untuk berunding. (John F. Kennedy)</p>
<p>Kita takkan bisa lari dari ketakutan. Kita hanya bisa mengubahnya menjadi<br />
teman yang menemani kita sepanjang petualangan kita yang amat menantang ini.<br />
(Susan Jeffers)</p>
<p>Integritas tidak memerlukan peraturan. (Albert Camus) (Integritas, menurut Webster&#8217;s New Universal Unabridged Dictionary, adalah<br />
&#8220;kepatuhan pada prinsip moral dan etika; kekuatan karakter moral;<br />
kejujuran.&#8221;)</p>
<p>Orang-orang bodoh mengira tak memerlukan nasehat; orang-orang bijak<br />
malah mendengarkan orang lain. (Peribahasa 12:15 NLT)</p>
<p>Sertakan hatimu, pikiranmu, intelektualitasmu, dan jiwamu, meski pada<br />
tindakanmu yang paling sepele. Ini adalah rahasia kesuksesan. (Swami<br />
Vivekananda)</p>
<p>* * *</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://januarsw.com/2008/05/seri-introspeksi-diri-68-kata-kata-adalah-cakrawala/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seri Introspeksi Diri ( 5/8 ) : LIMA PESAN UNTUK PEMIMPIN</title>
		<link>http://januarsw.com/2008/05/seri-introspeksi-diri-58-lima-pesan-untuk-pemimpin/</link>
		<comments>http://januarsw.com/2008/05/seri-introspeksi-diri-58-lima-pesan-untuk-pemimpin/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 May 2008 09:38:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>januar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Leadership]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://januarsw.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[LIMA PESAN UNTUK PEMIMPIN
Erry Riyana Hardjapamekas
Catatan Editor: Berikut adalah kutipan artikel berjudul &#8220;5 Pesan Untuk
Pemimpin&#8221; yang ditulis oleh Erry Riyana Hardjapamekas, dalam buku beliau,
&#8220;Esensi Kepemimpinan &#8211; Mewujudkan Visi Menjadi Aksi&#8221;. Beliau pernah menjabat
sebagai Direktur Utama PT.Timah Tbk. Buku beliau sarat berisikan
catatan-catatannya selama beliau menjabat sebagai seorang CEO yang
dikirimkan pada para kolega dan manajernya melalui media [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>LIMA PESAN UNTUK PEMIMPIN<br />
Erry Riyana Hardjapamekas<span id="more-25"></span></p>
<p>Catatan Editor: Berikut adalah kutipan artikel berjudul &#8220;5 Pesan Untuk<br />
Pemimpin&#8221; yang ditulis oleh Erry Riyana Hardjapamekas, dalam buku beliau,<br />
&#8220;Esensi Kepemimpinan &#8211; Mewujudkan Visi Menjadi Aksi&#8221;. Beliau pernah menjabat<br />
sebagai Direktur Utama PT.Timah Tbk. Buku beliau sarat berisikan<br />
catatan-catatannya selama beliau menjabat sebagai seorang CEO yang<br />
dikirimkan pada para kolega dan manajernya melalui media email. Bagi kami,<br />
yang menarik dari buku ini bukan sekedar isinya yang sarat dengan<br />
pesan-pesan motivasional, tetapi juga bagaimana usaha Erry Riyana sebagai<br />
seorang eksekutif berusaha memberdayakan rekan-rekannya melalui proses<br />
komunikasi yang unik.</p>
<p>Berkomunikasi melalui email, apalagi bila ditunjang dengan sebuah fasilitas<br />
milis, dalam sebuah perusahaan mungkin tidak terlalu lazim. Komunikasi lewat<br />
email yang bersifat prifat sekaligus publik menembus batas-batas hierarki<br />
perusahaan. Lewat email, seorang CEO dapat berhubungan langsung dengan staff<br />
yuniornya (tentu dengan syarat memiliki alamat email). Selain itu<br />
berkomunikasi via email memerlukan kecerdasan tertentu karena bila tidak<br />
sebuah email yang berisikan sebuah usulan dapat dengan mudah<br />
disalahtafsirkan sebagai sebuah keluhan. Apa yang diupayakan oleh Erry<br />
Riyana ini merupakan sebuah wacana menarik dan berani, karena tak sedikit<br />
seorang manajer tidak memiliki kemampuan serta keberanian menulis secara<br />
terbuka melalui email.</p>
<p>Berikut kami kutipkan komentar Prof. DR. Gede Raka, Guru Besar ITB, atas<br />
buku ini, &#8220;Buku ini memberikan contoh nyata bagaimana seorang pemimpin<br />
dengan cerdik mengambil inisiatif untuk menggelindingkan proses belajar<br />
secara inovatif di perusahaan, merangsang setiap warga perusahaan untuk<br />
mempertanyakan, merenungkan kembali, menyimak, seluruh aspek kehidupan<br />
mereka dalam kerja, dan mengambil keputusan serta bertindak untuk kebaikan<br />
seluruh warga perusahaan dan untuk dirinya sendiri.&#8221; (Editor)</p>
<p>1&#8211;Kelilingi diri kita dengan orang-orang yang selalu berpikir positif,<br />
karena keyakinan, nilai dan perilaku mereka akan berpengaruh. Sangat penting<br />
kita meluangkan waktu, terutama dengan mereka yang optimistis dan memiliki<br />
motivasi tinggi.</p>
<p>2&#8211;Belajarlah dari kesalahan yang pernah kita perbuat. Senantiasalah kita<br />
sadari bahwa segala nilai, besar atau kecil, dibentuk dari akumulasi<br />
kebijakan. Untuk menjadi bijak, kita harus berpengalaman, baik pengalaman<br />
benar atau pun pengalaman salah, hingga kita pun mampu menjadi lebih kuat<br />
dan lebih cerdik di masa yang akan datang. Kesalahan akan sangat bermanfaat,<br />
apabila kita belajar darinya, milikilah perilaku ini sehingga kita tak akan<br />
merasa malu mencoba apa pun.</p>
<p>3&#8211;Waktu memang merupakan sesuatu yang tak mampu kita beli berapa pun<br />
harganya, bila ia telah lewat. Seringkali pula kita merasa kekurangan waktu.<br />
Tambahkanlah waktu kerja efektif kita setengah jam saja sehari pada awal dan<br />
setelah akhir jam kerja, maka dalam setahun akan berjumlah lebih dari 300<br />
jam kerja!</p>
<p>4&#8211;Sedikit demi sedikit, lama kelamaan menjadi bukit. Perjalanan seribu mil<br />
dimulai dengan langkah pertama. Lakukanlah langkah kecil sekarang juga!</p>
<p>5&#8211;Kaji seawal mungkin apa-apa yang diperkirakan bakal jadi hambatan,<br />
gangguan, atau tantangan, atau ketidaktentuan. Apa yang diperkirakan bakal<br />
menjadi faktor negatif. Kekuarangan dukungan, pengetahuan tehnis, waktu,<br />
ruangan, energi, uang, atau kekurangan pengalaman, semuanya akan membuat<br />
tugas kita menjadi sulit. Tangani sedini mungkin, sehingga kita merasa<br />
sangat positif dan peluang keberhasilan tampak lebih terang. Dengan itu kita<br />
akan mampu menyelami lautan tugas kita dengan menyenangkan.</p>
<p>(Erry Riyana Hardjapamekas, &#8220;Esensi Kepemimpinan &#8211; Mewujudkan Visi Menjadi<br />
Aksi&#8221;)</p>
<p>* * *</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://januarsw.com/2008/05/seri-introspeksi-diri-58-lima-pesan-untuk-pemimpin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seri Introspeksi Diri (4/8) : Pesan Proklamator</title>
		<link>http://januarsw.com/2008/05/seri-introspeksi-diri-48/</link>
		<comments>http://januarsw.com/2008/05/seri-introspeksi-diri-48/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 May 2008 09:32:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>januar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Leadership]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://januarsw.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Seri Introspeksi Diri (4) : Bung Besar itu merelakan dirinya tenggelam untuk sebuah keutuhan bangsanya&#8230;
* * *
Anakku,
Simpan segala yang kau tahu. Jangan ceritakan deritaku dan sakitku kepada
rakyat, biarkan aku menjadi korban asal Indonesia tetap bersatu. Ini aku
lakukan demi kesatuan, persatuan, keutuhan dan kejayaan bangsa.
Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden
sekalipun ada batasnya. Karena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seri Introspeksi Diri (4) : Bung Besar itu merelakan dirinya tenggelam untuk sebuah keutuhan bangsanya&#8230;<span id="more-24"></span></p>
<p>* * *<br />
Anakku,</p>
<p>Simpan segala yang kau tahu. Jangan ceritakan deritaku dan sakitku kepada<br />
rakyat, biarkan aku menjadi korban asal Indonesia tetap bersatu. Ini aku<br />
lakukan demi kesatuan, persatuan, keutuhan dan kejayaan bangsa.</p>
<p>Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden<br />
sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan<br />
rakyat. Dan di atas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.</p>
<p>(Pesan Bung Karno kepada Megawati di akhir hayatnya)</p>
<p>* * *</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://januarsw.com/2008/05/seri-introspeksi-diri-48/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seri Introspeksi Diri (3/8) : KUALITAS PEMIMPIN</title>
		<link>http://januarsw.com/2008/05/seri-introspeksi-diri-38-kualitas-pemimpin/</link>
		<comments>http://januarsw.com/2008/05/seri-introspeksi-diri-38-kualitas-pemimpin/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 May 2008 09:29:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>januar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Leadership]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://januarsw.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[* * *
KUALITAS PEMIMPIN
Linda R. Dominguez
Selama beberapa bulan saya telah mengadakan interview dengan beberapa klien
untuk mendefinisikan kualitas-kualitas terbaik dari pemimpin-pemimpin yang
paling efektif. Berikut ini adalah lima kualitas yang paling sering
disebut-sebut sebagai kualitas paling penting yang dimiliki oleh para
pemimpin tersebut.
1&#8211;Pemimpin mendengarkan.
Para pemimpin besar tahu pasti bahwa mereka tidak memiliki semua jawaban.
Karenanya mereka tidak merasa canggung untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"><span id="more-23"></span>* * *</p>
<p>KUALITAS PEMIMPIN<br />
Linda R. Dominguez</p>
<p>Selama beberapa bulan saya telah mengadakan interview dengan beberapa klien<br />
untuk mendefinisikan kualitas-kualitas terbaik dari pemimpin-pemimpin yang<br />
paling efektif. Berikut ini adalah lima kualitas yang paling sering<br />
disebut-sebut sebagai kualitas paling penting yang dimiliki oleh para<br />
pemimpin tersebut.</p>
<p>1&#8211;Pemimpin mendengarkan.</p>
<p>Para pemimpin besar tahu pasti bahwa mereka tidak memiliki semua jawaban.<br />
Karenanya mereka tidak merasa canggung untuk bertanya dan meminta pendapat<br />
maupun wawasan dari orang lain.</p>
<p>2&#8211;Pemimpin menunjukkan arah</p>
<p>Para pemimpin menunjukkan arah dengan mengembangkan dan memberikan dukungan<br />
visi, misi, dan tujuan bagi diri mereka sendiri dan organisasi mereka.<br />
Mereka tahu bagaimana memberikan dorongan dan dukungan. Mereka pun selalu<br />
berusaha menemukan cara-cara yang lebih baik.</p>
<p>3&#8211;Pemimpin menciptakan lingkungan yang penuh motivasi.</p>
<p>Para pemimpin menciptakan suasana motivasi yang menyala-nyala dalam<br />
menghadapi perubahan. Para pemimpin itu menunjukkan penghargaan dan<br />
keberanian (daripada mencemooh atau menyalahkan orang lain) pada mereka yang<br />
bersedia mencoba hal-hal baru meski mungkin saja mereka gagal.</p>
<p>4&#8211;Pemimpin tidak menyalahkan.</p>
<p>Daripada menyalahkan, mereka senantiasa belajar. Pemimpin sejati berusaha<br />
menciptakan lingkungan kerja yang menunjang suasana pembelajaran yang tiada<br />
henti serta pembaharuan diri. Mereka dengan bebas membagikan keahlian dan<br />
juga kegagalan-kegagalan mereka.</p>
<p>5&#8211;Pemimpin memimpin dengan teladan.</p>
<p>Pemimpin menjadi teladan dan mempertahankan nilai-nilai yang tak berubah.<br />
Para pemimpin besar memiliki standar profesional dan personal yang tinggi.<br />
Mereka juga menghargai kekayaan yang ada pada keragaman dan perbedaan para<br />
karyawannya. Mereka realitis. Mereka bukan orang yang berkata, &#8220;Lakukan<br />
sebagaimana kataku, bukan sebagaimana tingkahku.&#8221; Pemimpin besar menjaga<br />
komitmen mereka. Pemimpin membagikan kekuasaan mereka dalam membuat<br />
keputusan dengan orang lain di seluruh organisasi. Mereka paham benar dengan<br />
perbedaan antara &#8220;kekuatan&#8221; dan &#8220;kekuasaan&#8221;. Kekuatan adalah kemampuan<br />
seseorang untuk melakukan tindakan secara efektif. Sedangkan kekuasaan<br />
adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan. Apakah anda lebih suka<br />
terinspirasikan atau terkendalikan?</p>
<p>Apakah para pemimpin anda menunjukkan kualitas-kualitas tersebut di atas?<br />
Jika tidak, bagian manakah yang terlewati dan apa yang harus anda lakukan?</p>
<p>(Linda R. Dominguez, CoachingWeekly, <a href="http://www.executive-coaching.com">http://www.executive-coaching.com</a>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://januarsw.com/2008/05/seri-introspeksi-diri-38-kualitas-pemimpin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seri Introspeksi Diri (2/8) : PIMPINLAH DENGAN KETELADANAN</title>
		<link>http://januarsw.com/2008/05/seri-introspeksi-diri-28-pimpinlah-dengan-keteladanan/</link>
		<comments>http://januarsw.com/2008/05/seri-introspeksi-diri-28-pimpinlah-dengan-keteladanan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 May 2008 09:24:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>januar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Leadership]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://januarsw.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[* * *

Kepemimpinan itu dimulai dengan dada yang lapang. Karena, terlebih dahulu
anda harus mengajari diri sendiri dan membenahi perilaku sehingga menjadi
teladan; sebelum mengajari orang lain melalui ucapan lidah anda. Keteladanan
bukanlah perintah, namun dipatuhi lebih dari kerasnya teriakan aba-aba
komando. Memiliki dada yang lapang berarti menyediakan tempat yang luas bagi
tindakan belajar. Dan, belajar adalah menangkap kebijakan dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"><span style="font-size: 11pt; color: windowtext;"><span id="more-22"></span>* * *</p>
<p><font style="font-size: 11pt;" color="windowtext"></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;">Kepemimpinan itu dimulai dengan dada yang lapang. Karena, terlebih dahulu<br />
anda harus mengajari diri sendiri dan membenahi perilaku sehingga menjadi<br />
teladan; sebelum mengajari orang lain melalui ucapan lidah anda. Keteladanan<br />
bukanlah perintah, namun dipatuhi lebih dari kerasnya teriakan aba-aba<br />
komando. Memiliki dada yang lapang berarti menyediakan tempat yang luas bagi<br />
tindakan belajar. Dan, belajar adalah menangkap kebijakan dan hikmah dari<br />
mana pun; termasuk dari pihak-pihak yang anda anggap musuh anda.</p>
<p>Kesan pertama dinilai dari penampilan anda; namun kesan terakhir selalu<br />
dinilai pada kelapangan dada anda. Bila anda menaruh kepemimpinan anda pada<br />
kegagahan seragam, maka pastikan itu hanyalah pengetuk perhatian pertama<br />
orang-orang anda. Pastikan, anda dapat mewariskan sesuatu yang tak mudah<br />
lekang; yaitu keteladanan.</p>
<p>* * *</p>
<p></font></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://januarsw.com/2008/05/seri-introspeksi-diri-28-pimpinlah-dengan-keteladanan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seri introspeksi diri (1/8) : INTEGRITAS ADALAH KEUTUHAN DIRI</title>
		<link>http://januarsw.com/2008/05/seri-introspeksi-diri-18-integritas-adalah-keutuhan-diri/</link>
		<comments>http://januarsw.com/2008/05/seri-introspeksi-diri-18-integritas-adalah-keutuhan-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 May 2008 09:14:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>januar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Leadership]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://januarsw.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Pengantar : Tulisan ini merupakan serial di milis Pengurus DPW. Sumbernya sebagian besar dari News Letter rekan Kantor. Beberapa tulisan diantaranya saya berikan komentar pengantar. semoga masih bermanfaat.
* * *
SEKAR !!!
Dear Sekarist,
Sebagai bahan introspeksi, renungan dan kaca benggala pada apa yang kita lakukan selama ini di dalam organisasi, saya tawarkan sebuah diskursus (discourse) untuk memperkaya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="text-decoration: underline;">Pengantar</span> : <em>Tulisan ini merupakan serial di milis Pengurus DPW. Sumbernya sebagian besar dari News Letter rekan Kantor. Beberapa tulisan diantaranya saya berikan komentar pengantar. semoga masih bermanfaat</em>.</p>
<p>* * *<span id="more-21"></span></p>
<p>SEKAR !!!</p>
<p>Dear Sekarist,</p>
<p><img class="alignleft" style="float: left; margin: 1px 2px;" src="http://januarsw.com/wp-content/uploads/2008/11/leadership.jpg" alt="" width="100" height="79" />Sebagai bahan introspeksi, renungan dan kaca benggala pada apa yang kita lakukan selama ini di dalam organisasi, saya tawarkan sebuah diskursus (discourse) untuk memperkaya batin kita, memperkaya mental kita dan memperkaya pengalaman kita dalam mengelola organisasi. Kata orang, di atas langit, masih ada langit. Dan tidak ada kebenaran mutlak kecuali kebenaran Yang Maha Kuasa, apalagi kebenaran versi diri sendiri.</p>
<p>Salah satu caranya, adalah dengan banyak membaca dan mendengar orang lain. Karena itu, beberapa bahan yang mungkin bermanfaat, akan saya sharing di milis DPW ini.</p>
<p>Semoga berkenan dan bermanfaat.</p>
<p>Salam &#8220;membangun kembali soliditas dan solidaritas&#8221;,</p>
<p>JSW<br />
Berserikat Membuat Kita Kuat</p>
<p>* * *</p>
<p>INTEGRITAS ADALAH KEUTUHAN DIRI</p>
<p>Satu-satunya cara mendapatkan integritas adalah dengan mewujudkannya.<br />
Integritas tidak diperoleh dari mana-mana. Anda tak mungkin memperolehnya di<br />
jalan, atau membelinya di toko terlengkap sekali pun. Anda adalah pembuat,<br />
penjaja, sekaligus pembeli integritas diri anda sendiri. Integritas berada<br />
dalam keutuhan diri anda. Kesatuan ucapan dan tindakan. Kesesuaian pikiran<br />
dan sikap. Kebulatan tekad dan perjuangan. Karena itu, tak ada kehilangan<br />
yang lebih berarti selain kehilangan integritas.</p>
<p>Setiap upaya anda dengan integritas menumbuhkan buah kewibawaan. Namun,<br />
sekali anda tidak melakukan sesuatu yang anda katakan, anda<br />
mengembangbiakkan ulat rakus yang menggerogotinya. Mungkin anda menganggap<br />
orang lain masih mempercayai anda, padahal mereka mengamati semua<br />
gerak-gerik anda. Seperti buah yang tampak ranum, namun membusuk di dalam<br />
tanpa anda sadari. Integritas adalah sesuatu yang harus terus-menerus<br />
dinyatakan bukan sekedar dimiliki. (Editor)</p>
<p>* * *</p>
<p>PEMIMPIN TRANSFORMASIONAL<br />
Mortime R. Feinberg dan Aaron Levenstein</p>
<p>&#8220;Anda berikan pada saya, saya berikan pada anda.&#8221; Itulah salah satu tipe<br />
kempimpinan, yang disebut oleh James MacGregor sbagai kepemimpinan<br />
&#8220;transaksional&#8221;. Dalam bukunya, &#8220;Leadership&#8221;, Burns membahas sampai beberapa<br />
ratus halaman untuk membahas pemimpin &#8220;transaksional&#8221; yang biasa-biasa itu,<br />
dengan pemimpin &#8220;transformasional&#8221; yang penuh karisma, luar biasa dan<br />
langka. Dalam hubungan transaksional, hasil akhirnya adalah suatu jual beli.<br />
Sedangkan dalam hubungan transformasional, hasil akhirnya adalah perubahan<br />
pada diri bawahan; pertumbuhan pribadi. Bentuk hubungan yang pertama hanya<br />
memberikan imbalan materi, sedangkan yang kedua memberikan imbalan kejiwaan.</p>
<p>Jendral George G. Marshall pernah menyarankan koleganya agar mereka<br />
mengembangkan bawahan mereka menjadi orang yang mnecapai keterandalan diri.<br />
&#8220;Jika anda ingin seseorang berbuat demi anda,&#8221; katanya, &#8220;maka jangan biarkan<br />
ia merasa bahwa dirinya tergantung pada anda. Buatlah dia merasa bahwa<br />
andalah yang bergantung padanya dalam suatu cara tertentu.&#8221; Dan cara paling<br />
baik untuk melakukan itu ialah dengan mengajarkan agar berdiri di atas kaki<br />
sendiri.</p>
<p>Bila anda ingin menjadi pemimpin yang mentransformasi, maka perlu anda<br />
ingat, bahwa anda tidak selamanya berhasil. Ada sementara orang yang begitu<br />
tergantung dan tak mampu tumbuh. &#8220;Anda tak bisa menanam rumput di atas<br />
semen,&#8221; kata seseorang. Kami sudah melakukan banyak pembicaraan dengan para<br />
eksekutif yang telah berhasil mengembangkan gaya kepemimpinan yang<br />
mentransformasikan itu. Pengalaman-pengalaman mereka bisa disimpulkan dalam<br />
aspek-aspek berikut.</p>
<p>1&#8211;Menunjukkan minat pribadinya terhadap kemajuan individu. Pemimpin yang<br />
transformasional selalu mempelajari dan mencoba memahami orang-orangnya.<br />
Mereka tidak saja mengetahui kemampuan orang-orang itu pada saat sekarang,<br />
tetapi juga potensinya yang terpendam. Pemimpin yang transformasional selalu<br />
mendorong orang-orangnya keluar lebih jauh dari keterbatasan diri yang<br />
mereka ciptakan sendiri menuju potensi diri yang selama ini tak pernah<br />
mereka sadari. Tidak bisa tidak, pemimpin yang transformasional hendaklah<br />
mulai menguasai karakter dan potensi masing-masing anak buahnya.</p>
<p>2&#8211;Membangun hubungan yang karismatik. Tingkah laku pemimpin yang karismatik<br />
dapat digambarkan: dalam penilaiannya ia menciptakan keyakinan diri,<br />
kompetensi dan itikad baik. Para pengikutnya selalu mengidentifikasi diri<br />
mereka dengan dirinya. Mereka mantap dengan keyakinannya dan bisa<br />
mengandalkan kemampuannya bila mereka membutuhkannya. Ia membuat semua tugas<br />
menjadi menarik, memancarkan arah dan tujuan, membangkitkan semacam perasaan<br />
petualangan dan keayikan. Ia tak perlu menjadi seorang humoris atau intelek,<br />
orang-orang menyenanginya karena ia menghargai individualitas mereka. Tapi<br />
yang lebih penting lagi, ia memberikan keteladanan sehingga orang lain ingin<br />
mengikuti dan menyamainya.</p>
<p>3&#8211;Merangsang orang lain untuk berhasil. Pemimpin transformasional<br />
mengendalikan anak buahnya dengan rentang kendalil yang longggar, dan ia<br />
memandang kesalahan yang bakal timbul sebagai bagian dari proses tumbuh.<br />
Pemimpin yang efektif selalu mencari kesempatan untuk mengutarakan rasa<br />
penghargaannya yang tulus.</p>
<p>4&#8211;Memberikan dukungan psikologis. Untuk mengubah hubungan transaksional<br />
menjadi transformasional, pemimpin harus melakukan usaha yang terencana dan<br />
sadar untuk mengangkat bawahannya. Tujuannya ialah untuk meningkatkan<br />
derajat aspirasi dan memperkokoh rasa percaya diri orang. Pemimpin<br />
transformasional tidak cukup hanya meningkatkan pandangan dan mengembangkan<br />
rasa percaya diri, karena efeknya mungkin akan memudar. Ia juga mesti<br />
mengembangkan kemampuan prestasi bawahannya. Pemimpin harus memberi<br />
instruksi, pelatihan ketrampilan dan fasilitas lainnya, serta meningkatkan<br />
kondisi lingkungan tempat tugas itu dilaksanakan.</p>
<p>5&#8211;Melontarkan pertanyaan, tetapi dengan cara sedemikian rupa. Tujuannya<br />
untuk mengorek lebih banyak lagi apa yang dipunyai seseorang. Walter Liss<br />
mengatakan, &#8220;Pertanyaan itu tidak hanya untuk mengetahui apa yang anda<br />
ketahui, tapi juga merangsang anda agar menjelajahi pilihan kemungkinan<br />
lain.&#8221; Pertanyaan haruslah sedemikian rupa sehingga anda tidak tinggal diam<br />
dengan apa yang sudah jelas ada.</p>
<p>6&#8211;Mengusahakan agar orang tetap memperoleh cukup informasi. Tujuannya tidak<br />
hanya untuk mengisi mereka dengan lebih banyak fakta, tetapi juga memperluas<br />
persepsi dan membuat mereka mau melakukan penjelajahan lebih jauh. Pemimpin<br />
transformasional mengajak pengiktunya untuk melihat persoalan dari suatu<br />
sudut pandang yang segar dengan tujuan baru. Untuk itu ia harus senantiasa<br />
menginformasikan nilai-nilai dan prioritas yang dianutnya.</p>
<p>Dalam dunia nyata ini, memang seseorang tak mungkin terus-menerus berada<br />
dalam posisi transformasional. Ada saatnya ia menjadi pemimpin<br />
transaksional. Sebab manusia juga berhak memperoleh imbalan materi. Tekanan<br />
hidup sehari-hari bisa membuat seorang pemimpin melakukan tindakan<br />
transaksional dengan bawahannya. Tetapi kesadaran akan praktek kepemimpinan<br />
mana yang diterapkannya, dan dalam situasi yang bagaimana ia harus<br />
menerapkan, akan sangat membantu meningkatkan ketrampilan kepemimpinannya.<br />
(diadaptasi dari &#8220;Pemimpin Transformasional&#8221;, Mortime R. Feinberg dan Aaron<br />
Levenstein)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://januarsw.com/2008/05/seri-introspeksi-diri-18-integritas-adalah-keutuhan-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

