<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>JanuarSW.com &#187; Humaniora</title>
	<atom:link href="http://januarsw.com/category/humaniora/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://januarsw.com</link>
	<description>Cakrawala : membuka fikir, menata hati</description>
	<lastBuildDate>Sat, 28 Jan 2012 08:33:34 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Pak Dahlan</title>
		<link>http://januarsw.com/2012/01/pak-dahlan/</link>
		<comments>http://januarsw.com/2012/01/pak-dahlan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jan 2012 08:33:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>januar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://januarsw.com/2012/01/pak-dahlan/</guid>
		<description><![CDATA[

Menurut saya,ada dua nama Dahlan yang memang membawa perubahan besar di republik ini. Satu Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah di awal abad 20 ini dan yang kedua adalah Dahlan Iskan, Menteri Negara BUMN RI yang mantan CEO PLN dan founder jaringan media Jawa Pos. Dahlan yang pendiri Muhammadiyah membawa perubahan besar pada umat Islam yang saat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://januarsw.com/wp-content/uploads/2012/01/adahlan.jpeg"><img class="alignnone size-full" src="http://januarsw.com/wp-content/uploads/2012/01/adahlan.jpeg" alt="" title="adahlan.jpeg" width="112" height="150" /></a></p>
<p><a href="http://januarsw.com/wp-content/uploads/2012/01/dis.jpeg"><img class="alignnone size-full" src="http://januarsw.com/wp-content/uploads/2012/01/dis.jpeg" alt="" title="dis.jpeg" width="127" height="150" /></a></p>
<p>Menurut saya,ada dua nama Dahlan yang memang membawa perubahan besar di republik ini. Satu Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah di awal abad 20 ini dan yang kedua adalah Dahlan Iskan, Menteri Negara BUMN RI yang mantan CEO PLN dan founder jaringan media Jawa Pos. Dahlan yang pendiri Muhammadiyah membawa perubahan besar pada umat Islam yang saat itu terjebak dalam taklid dan kejumudan. Umat Islam di era Dahlan saat itu tidak saja umat yang miskin dan bodoh, tapi juga tidak memiliki kebanggaan sebagai umat yang pernah mencerahkan dunia abad 7 sampai dengan abad 14. Gerakan Ahmad Dahlan yang fokus memperbaiki umat dari sisi pendidikan,akhirnya memang membawa perubahan besar yang hingga kini dirasakan manfaatnya. Film <em>Sang Pencerah</em> tentangnya tak berlebihan merekam sejarah perjuangannya.  Kini Muhammadiyah adalah organisasi umat Islam yang paling banyak memiliki aset untuk memberikan layanan kepada masyarakat tidak hanya di bidang pendidikan tapi juga di bidang kesehatan.</p>
<p>***</p>
<p>Dahlan yang Iskan membawa perubahan besar pada aspek komunikasi. Sebagai orang yang besar dan berhasil di bidang jurnalistik, Dahlan Iskan (DIs) nampaknya memang tidak mau berubah. Walau sudah menjadi CEO PLN, ia masih selalu menulis sebulan sekali dalam CEO Notes-nya yang dipublikasi di internal PLN tapi lalu &#8216;bocor&#8217; kemana-mana dan akhirnya malah dibukukan dan bisa dinikmati masyarakat. Tulisan-tulisannya masih tetap renyah dan enak dinikmati walau seringkali bercerita soal jeroan perusahaan negara urusan hidup mati ini (maksudnya, byar pet listriknya..). Masyarakat &#8211; minimal saya -, jadi tahu bagaimana PLN saat DIs menjadi top manajemennya dan bagaimana ia mulai membongkar soal-soal dasar kelistrikan : dari kelangkaan bahan bakar untuk pembangkit sampai rasio elektrifikasi yang harus segera diatasi di pelosok-pelosok negeri kita. Tentu saja tidak hanya membongkar tapi tidak memasangnya (membereskan) kembali, DIs juga memberi <em>insight</em> bagaimana harus mensolusikannya. Saya seperti membaca laporan wartawan yang sekaligus memberi opini bagaimana seharusnya suatu hal diselesaikan. Dengan posisinya saat ini yang sudah menjadi Menteri BUMN, DIs pun tetap tidak berubah. Hampir dua mingguan sekali ia menulis apa saja. Tapi tentu soal ke-BUMN-an dan tetap ditulis di harian Jawa Pos, harian miliknya. Rangkaian tulisan yang ia sebut Manufacturing Hope itu, membahas semua hal di BUMN. Soal garam, soal hotel, soal kereta api, soal angkutan udara, soal gas, soal pupuk,soal perkebunan dan telekomunikasi. Saya menikmati tulisan-tulisan itu.</p>
<p>***</p>
<p>Keputusan Presiden SBY yang mengangkatnya menjadi Menteri BUMN dalam reshufle kabinet akhir 2011 lalu memang memancing analisis. Salah satunya adalah bahwa keputusan itu tak lepas dari kepentingan Pemilu 2014 nanti. Untuk <em>test the water</em>, diangkatlah dulu DIs menjadi CEO PLN yang ternyata memang memberikan terobosan dalam memimpin PLN selama dua tahun. Kepentingan SBY untuk mengangkat DIs  tentulah menjadikan jaringan Jawa Pos sebagai tulang punggung komunikasi publik SBY dan juga Partai Demokrat. Logis juga jika melihat kenyataan bos MNC Group (RCTI, Harian Seputar Indonesia) Hari Tanusudibjo  adalah sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Partai Nasdem yang memperkuat posisi Surya Paloh, pemilik Media Group (Media Indonesia, Metro TV) pendiri ormas Nasdem. Lalu Ketum Partai Golkar pun pemilik TVOne. Dan di Indonesia, yang begitu luas dan beragam penduduknya, manipulasi media adalah salah satu kekuatan politik juga. Dengan keberadaan DIs di kabinetnya, meski mungkin tak ada instruksi SBY secara langsung, DIs dengan kekuatan jaringan Jawa Pos-nya kini diharapkan bisa menambah atau paling tidak memperbaiki pencitraan SBY saat ini. Dua tulisannya yang menceritakan suasana Sidang Kabinet dan popularitas mobil Esemka, mungkin bisa jadi salah satu indikasi itu. Jika Nasdem sudah diback up MNC Group dan Media Group, lalu Golkar melalui TVOne, bagaimana dengan Demokrat?</p>
<p>***</p>
<p>Sebagai analisis, sah-sah saja. Toh DIs tidak minta jadi CEO PLN dan juga Menteri BUMN. Mesti pada akhirnya tidak (atau tidak bisa) juga menolak amanah tersebut. Bagi saya, keberadaan DIs di jajaran Kabinet adalah anugerah buat rakyat Indonesia. Bagaimana suasana SBY memimpin Sidang Kabinet dengan nuansa kegeraman (kalau tidak dibilang kemarahan), kita bisa tahu. Bagaimana <em>decision making process</em> DIs memilih Dirut BUMN kini, kita menjadi tahu. Bagaimana pragmatisnya DIs menyederhanakan soal-soal di BUMN, kita jadi mengerti dan pastinya berharap memang itu penyelesaiannya. Namun jika analisis diatas benar, saya pun berharap DIs tetap menjaga integritasnya demi membaiknya kehidupan di Republik ini. Karena toh jabatan di kabinet memang jabatan politis.<br />
Dengan integritas yang terjaga, tulisan-tulisannya pasti memancarkan kejujuran dan ketulusan.<br />
Dengan integritas yang terjaga, tulisan-tulisannya tidak hanya memberi pencerahan bagi masyarakat, tapi juga mendorong perubahan cara berkomunikasi pemimpin dan yang dipimpinnya.<br />
Dengan integritas yang terjaga, tulisan-tulisannya tidak sekedar hanya curhat (curahan hati) seseorang yang tidak bisa dilarang menulis, tapi akan menjadi gunting Alexander yang akan menjadi solusi berbagai permasalahan bangsa ini.<br />
Dengan integritas yang terjaga, tulisan-tulisannya memang tetap menunjukkan Pak Dahlan Iskan yang tidak berubah.</p>
<p>Pak Dahlan Iskan, semoga tetap diberikan kesehatan dan kekuatan mengemban amanah.***</p>
<p>Januar Setyo Widodo</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://januarsw.com/2012/01/pak-dahlan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gusti Allah Ora Sare&#8230;(Catatan Pribadi)</title>
		<link>http://januarsw.com/2012/01/gusti-allah-ora-sare-catatan-pribadi/</link>
		<comments>http://januarsw.com/2012/01/gusti-allah-ora-sare-catatan-pribadi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jan 2012 14:48:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>januar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://januarsw.com/2012/01/gusti-allah-ora-sare-catatan-pribadi/</guid>
		<description><![CDATA[
Rakernas IV Sekar Telkom sudah usai tanggal 28 Oktober 2011 lalu, tepat pada hari peringatan ke-83 Sumpah Pemuda. Banyak sudah yang ditelurkan rekan-rekan Pengurus Sekar Telkom yang berdatangan dari berbagai penjuru Indonesia. Ada review program kerja, ada pula Rekomendasi. Baik kepada Pemerintah maupun kepada manajemen Perusahaan. Tapi saya tidak ingin menulis hal-hal seputar Rakernas kemarin. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://januarsw.com/wp-content/uploads/2012/01/penjara.jpeg"><img class="alignnone size-full" src="http://januarsw.com/wp-content/uploads/2012/01/penjara.jpeg" alt="" title="penjara.jpeg" width="228" height="221" /></a></p>
<p>Rakernas IV Sekar Telkom sudah usai tanggal 28 Oktober 2011 lalu, tepat pada hari peringatan ke-83 Sumpah Pemuda. Banyak sudah yang ditelurkan rekan-rekan Pengurus Sekar Telkom yang berdatangan dari berbagai penjuru Indonesia. Ada review program kerja, ada pula Rekomendasi. Baik kepada Pemerintah maupun kepada manajemen Perusahaan. Tapi saya tidak ingin menulis hal-hal seputar Rakernas kemarin. Bukan itu yang ingin saya tulis dan ceritakan, karena namanya juga Catatan Pribadi. Soal Rakernas IV lalu, selain sudah banyak diulas di website Sekar Telkom, akan lebih pas nanti pada saatnya DPP Sekar Telkom yang mengumumkan secara resmi konten-konten Rakernas IV. Kita tunggu saja ya. Sebelum memulai, saya ingin berterima kasih kepada ratusan Pengurus Sekar Telkom yang hadir mewakili kami-kami para anggota. Terima kasih juga saya ucapkan tentunya kepada yang sudah memberi ijin sehingga kehadiran kawan-kawan Pengurus menjadi mungkin.</p>
<p>***</p>
<p>Setelah diminta menyampaikan orasi atau tepatnya sharing dihadapan 400-an Pengurus Sekar Telkom seluruh Indonesia Kamis pagi (27/10) itu, saya, Mas Wisnu Adhi (Ketua Umum), Mas Wibowo Sugiarto (mantan Ketua DPW 5 Jatim), Mas Iman (Bendahara Umum DPP) meluncur ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I, Makassar. Ya, saya memang sudah meniatkan diri menjenguk senior-senior Telkom yang sekarang sedang kena musibah itu. Setelah mengontak kawan-kawan di kantor Telkom Makassar untuk memfasilitasi ke pengelola Lapas, akhirnya kami bisa masuk dan bertemu beliau-beliau. Mereka bertiga, lengkap, ternyata sudah menunggu kami. Pak Heru Suyanto, Pak Eddy Sarwono dan Pak Koesprawoto. Kami diterima di ruang internet yang dibangun Telkom untuk Lapas Makassar. Ada sekitar 10 PC berjajar disitu. Dindingnya dihiasi dengan promo Speedy dengan warna ceria khas Speedy, merah penuh semangat. Ruangannya pun ber-AC. Kalau sudah masuk disitu, pasti tak akan menyadari bahwa kita sebenarnya ada di ruangan salah satu Lapas dengan kapasitas 1000-an narapidana, terkurung dan dibatasi kebebasannya. Setelah bersalaman dan saling berpelukan, kami pun ngobrol ringan. Mereka bertiga mengenakan pakaian sehari-hari sebagaimana kalau kita santai. Pak Heru pakai kaos, Pak Eddy pakai kemeja lengan pendek garis-garis biru dan Pak Koesprawoto memakai baju koko plus peci khas Makassar. Pak Heru, mantan Ketua Kopkar Siporennu Divre-7, bercerita dengan semangat ‘teman-teman’ barunya sekarang ini. Pencopet, perampok, pembunuh bahkan teroris pengebom pasar Makassar beberapa waktu lalu. Cerita Pak Heru ini kadang ditimpali dengan canda ringan Pak Eddy maupun Pak Koesprawoto. Masih dengan suasana ringan, Pak Eddy, mantan Deputy KKSO Divre-7, pun menceritakan bagaimana suasana batinnya – dan tentu saja keluarganya &#8211; paska dimuatnya berita mereka besar-besar di salah satu harian nasional bergengsi di Republik ini awal tahun ini. Pak Koesprawoto – mantan KKSO Divre-7 KTI, yang selama perbincangan itu tak lepas dari senyum ikhlasnya, sempat menambahkan cerita sendu saat ditanya wartawan ketika KPK menanyakan kenapa kok mereka lari. Tetap dengan senyum yang – saya yakin seperti yang saya lihat saat itu – Pak Koes menjawab dengan datar, “ Saya bukan buron Mas”. Cukup lama rupanya kita silaturahmi. Hampir dua jam, dan ketika waktu menunjukkan pukul 13 WITA kami pun pamit.  Tak lama, sebelum kami keluar ruangan internet tersebut, kami melihat rombongan Mas Wartono ‘Ipung’, Ketua MPO Sekar Telkom juga datang menjenguk. Jujur saja, melihat Mas Ipung yang memang kenal baik dengan beliau-beliau bertiga berpelukan dengan ketiganya satu per satu, ada sedikit ras <em>ngregel</em> (= haru) di hati saya&#8230;Ya, mungkin saja saya sedang melow, kata anak-anak jaman sekarang. Bagaimana tidak melow, saya yang masih diberi kebebasan saja masih sering mengeluh, menggerutu dan kadang marah-marah tidak puas. Sementara ketiga beliau itu masih bisa tersenyum dan tertawa di tengah musibah yang mereka alami. Saya jadi teringat lagunya Kupu-Kupu Malam Titiek Puspa yang legendaris itu,<em> “&#8230;kadang dia tersenyum dalam tangis&#8230;”</em></p>
<p>***</p>
<p>Dalam perjalanan pulang dari Lapas, sambil mencari makan siang, ingatan saya melayang ke tahun 2006 lalu. Tepatnya saat Rakernas II Sekar Telkom yang dilaksanakan di bulan Maret 2006 di kantor Divre 5, di Surabaya. Saat itu, seluruh peserta Rakernas II Sekar berdiri memanjatkan doa kepada Illahi Robbi agar para senior leader Telkom saat itu, Pak Jhon Welly (Direktur SDM), Pak Komaruddin SK (mantan Diropsar), Pak Doddy Sudjani (mantan Kadivnet) dan Pak Endy Prijanto (mantan Kaprobis VoIP) – yang sedang ditahan di Bareskrim Polda Jabar – diberi kekuatan batin, ketabahan dan kesabaran dalam menjalani cobaan mereka. Saat itu, sebagai Ketua Panitia Rakernas II Sekar Telkom, saya memutarkan rekaman hampir 1 menit kondisi ‘penginapan’ para senior kita itu : beberapa sel ukuran 2 x 1 m, tumpukan baju dimana-mana, bekas-bekas makanan dan ceceran air dimana-mana. Banyak peserta Rakernas saat itu yang menyeka mata mereka. Saat itu Pak John dkk dicampur dengan dua orang tahanan wanita yang baru datang. Beberapa bulan sebelum Rakernas II itu, setelah mendengar Pak Jhon dkk ditahan di Polda Jabar pada Desember 2005, beberapa kali saya membezuk beliau. Ya, seperti pas saya di Lapas Makassar, jika bezuk Pak Jhon dkk pun hanya ngobrol ringan, tertawa dan kadang mentertawakan hal yang seharusnya menjadi sumber kesedihan.</p>
<p>***</p>
<p>Kawan-kawan, bukan maksud saya membuka luka lama. Hanya sekedar berbagi, betapa dunia bisa berubah seketika tanpa pernah kita bisa menolaknya. Yang di Polda Jabar, konon sudah di-SP3 (Surat Perintah Penghentian Penyidikan)-kan alias tidak pernah P21 (berkas lengkap diterima Kejaksaan dan siap untuk dituntut di Pengadilan). Namun, yang di Makassar, ketiga beliau sudah menjalaninya delapan bulan dari 6 tahun yang dituntutkan Jaksa. Ditambah dengan 5 bulan saat di Rutan, total jadi 13 bulan sudah Pak Koes – yang sumeleh dan penuh senyum ikhlas – bersama Pak Heru dan Pak Eddy, menjalani hari-hari yang begitu berbeda. Saat ini Pak Koes dkk sedang menunggu proses PK (Pengajuan Kembali) di MA setelah Kasasi mereka ditolak.</p>
<p>Kapan hal diatas akan selesai, terutama kasus Makassar? Apakah PK yang diajukan bisa dimenangkan ? Apakah akan ada keadilan ? Tidak tahu. Tapi Pak Dahlan Iskan, Menteri BUMN yang baru, sudah memberi angin segar. Tiga hal pertama yang akan ia lakukan di Kementerian BUMN adalah pertama, mengurangi rapat-rapat di BUMN menjadi 50% (belum jelas sebetulnya, rapat-rapat di Kementerian BUMN atau di BUMN-nya?). Kedua, mengurangi kemewahan yang biasa diterima di BUMN (belum jelas juga ukuran kemewahan yang mau dikurangi Pak Dis, panggilan akrab beliau). Dan ketiga, direksi BUMN harus berorientasi kepada hasil, bukan proses. Statement ketiga inilah yang saya maksud angin segar. Ini sepertinya terkait dengan proses pembuatan dan pelaksaaan kebijakan korporasi yang rawan kena cap korupsi. Artinya, tafsir saya kepada ucapan Pak Dis, sepanjang itu aksi korporasi, jangan takut kena gebuk tuduhan korupsi. Betul begitu Pak Dis ? Kalau betul seperti itu, mungkin test the water pertama adalah kasus Pak Edhi Widiono, mantan Dirut PLN yang sekarang sedang menjalani persidangan dengan tuduhan korupsi. Salah satu yang klausul yang dipertanyakan pengacara Pak Edhi adalah kenapa penetapan kerugian negara justru setahun setelah Pak Edhie dikenakan status tersangka. Bukan sebelumnya. Mungkin maksud si pengacara, kok tuduhan kerugian negara-nya seperti dicari-cari dulu, sementara Pak Edhi sudah ditahan duluan. Apa begitu ya? Wallahu’alam&#8230;</p>
<p>Ya, baik kasus Jabar maupun kasus Makassar memang punya kemiripan kalau tidak dibilang sama. Sama-sama soal kebijakan VoIP, sama-sama mengandung tuduhan ‘menyebabkan kerugian negara’ alias korupsi. Yang beda, kasus Jabar akhirnya SP3, sementara kasus Makassar jalan lagi setelah Januari 2008 ketiganya divonis bebas di Pengadilan Negeri namun kalah saat banding di Kejaksaan Tinggi dan Kasasi di MA.</p>
<p>Pak Dis, kalau memang niatnya menjadikan BUMN efisien dan produktif, statement ketiga Bapak sudah bagus dan benar. Efisien, karena kebijakan pengadaan misalnya, yang diadakan dengan pentahapan yang tidak perlu dan terlalu bertele-tele, jadi malah tidak efisien. Belum lagi kena ancaman korupsi. Produktif, karena waktu yang kadang terbuang cukup banyak untuk pengadaan alat-alat produksi, bisa digunakan untuk running the business soon. Seperti jargon Bapak sesaat setelah pelantikan Menteri : Kerja, kerja, kerja ! Yang ditunggu barangkali adalah realisasi dan konsistensi Bapak. Mengingat dibawah kekuasaan Bapak, ada 140-an BUMN dengan segunung permasalahan yang ada.</p>
<p>***</p>
<p>Saya – dan tentunya kawan-kawan pembaca -, berharap kasus Makassar adalah kasus terakhir yang menimpa Telkom tercinta. Selain menguras energi, tak ternilai kerusakan batin dan psikologis yang dirasakan para ‘tersangka korupsi’ itu. Tak bisa dibayangkan bagaimana keluarga dan keluarga besar mereka, mengelola musibah ini dan menempatkannya dalam relung hati dan kesabaran luar biasa, karena tetap yakin bahwa<em> Gusti Allah iku ora sare&#8230;</em> (Gusti Allah itu tidak tidur).</p>
<p>Tentu tak pernah dibayangkan bahwa hari-hari akhir pengabdian di Telkom, tidak dinikmati dengan baik dan layak. Karakter mereka dipermainkan untuk tidak mengatakannya dihancurkan. Saya kira mereka-mereka sudah menjalankan tugas mereka dengan baik saat mereka harus mengambil keputusan. Kalaupun saat ini sedang dibalik jeruji, tak berarti mereka bersalah. Ya, di jaman seperti sekarang ini, bekerja dengan baik rupanya tidak cukup. Mesti juga dengan kehati-hatian. Tapi terlalu hati-hati, tak akan ada inovasi maupun terobosan. Apalagi lingkungan BUMN dimana sekarang kita bekerja, semua bisa menjadi masalah dan dipermasalahkan di kemudian hari. Mudah-mudahan, kasus billing air time yang sedang dijadikan bola panas APWI (Asosiasi Pengusaha Wartel Indonesia) akhir-akhir ini, tak berakhir di meja panas pengadilan. Mudah-mudahan program TRRT (Telepon Rumah Tagihan Tetap) yang konon banyak membuat masyarakat (baca : konsumen) marah dan kehilangan respek kepada kita (baca : Telkom), bisa diselesaikan dengan baik oleh kita. Kita tidak ingin tentunya, dulu Telkom berhadapan dengan aparat, kini Telkom berhadapan dengan masyarakat yang notabene, memberi penghasilan kepada kita dan keluarga. Pak Jhon Welly dkk, Pak Koesprawoto dkk, Pak Edhi Widiono mungkin pada akhirnya tidak bersalah. Namun cap korupsi yang ‘dipaksa’ disandangkan kepada mereka, tak akan pernah mudah hilang begitu saja. Mungkin betul kata Pak Koes saat itu, bahwa saat Orde Baru cap paling mengerikan adalah ‘tidak bersih lingkungan’ dan sekarang cap itu berganti menjadi cap ‘korupsi’. Namun Tuhan memang Maha Penyayang&#8230;Kasih SayangNYA pun Ia tunjukkan lewat kawan-kawan Telkom di Makassar yang tak lepas berkirim makanan ke Lapas Makassar tiap hari, mengumpulkan kencleng ala Prita Mulyasari dan tentu saja membezuk beliau-beliau itu. Saya pun mendengar, beberapa Direksi dan Komisaris Telkom sudah menyempatkan bezuk Pak Koes dkk. Pak Jusuf Kalla (saat VoIP booming di tahun 1999, masih Komut PT. BSI mitra KSO Divre-7) pun sudah membezuk mereka. Ya, solidaritas memang indah dan menyejukkan hati. Begitulah memang seharusnya kita di Telkom, tak hanya bekerja namun juga harus tetap bersaudara dalam kondidi apa pun.</p>
<p>Saat pulang, dengan dada yang agak berat saya berbisik kepada Pak Koes, “ Pak, saat ini benar-benar saya hanya bisa berdoa agar Bapak dkk tetap sabar dan ikhlas&#8230;.Saya pamit dulu ya Pak, mohon doa bisa meneruskan karya  Bapak di Telkom&#8230;”.</p>
<p> </p>
<p>Januar Setyo Widodo</p>
<p>Mantan Ketua DPW Sekar Telkom Wilsus (2007-2010)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://januarsw.com/2012/01/gusti-allah-ora-sare-catatan-pribadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kota Revolusi dan Kota Mendoan</title>
		<link>http://januarsw.com/2011/12/kota-revolusi-dan-kota-mendoan-2/</link>
		<comments>http://januarsw.com/2011/12/kota-revolusi-dan-kota-mendoan-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Dec 2011 17:56:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>januar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://januarsw.com/2011/12/kota-revolusi-dan-kota-mendoan-2/</guid>
		<description><![CDATA[
Sambil menunggu kereta yang akan membawa pulang malam ini Jumat (23/12) pukul 22.40 WIB, saya mencoba explore gadget di tangan saya yang beberapa waktu menjadikan Jakarta terkenal di seantero dunia. Ya menjadi terkenal, hanya karena diskon 50% untuk seribu pembeli pertama langsung menciptakan ribuan kerumunan massa dan menghasilkan puluhan orang pingsan dan cedera ! Luar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://januarsw.com/wp-content/uploads/2011/12/simbol-yk1.jpeg"><img class="alignnone size-full" src="http://januarsw.com/wp-content/uploads/2011/12/simbol-yk1.jpeg" alt="" title="simbol-yk.jpeg" width="222" height="227" /></a></p>
<p>Sambil menunggu kereta yang akan membawa pulang malam ini Jumat (23/12) pukul 22.40 WIB, saya mencoba <em>explore</em> gadget di tangan saya yang beberapa waktu menjadikan Jakarta terkenal di seantero dunia. Ya menjadi terkenal, hanya karena diskon 50% untuk seribu pembeli pertama langsung menciptakan ribuan kerumunan massa dan menghasilkan puluhan orang pingsan dan cedera ! Luar biasa ya animo masyarakat kita untuk hal-hal konsumtif beginian.Langsung saja Jakarta jadi beken. Entah kenapa media asing memuat kejadian itu. Apa karena kerumunan ribuan massa yang antri sejak dini hari karena sebuah promo gadget baru, entah karena pingsannya puluhan orang gara-gara berdesak-desakan atau dari sisi jurnalistik, ini memang berita paling menarik yang bisa diwartakan mereka soal negeri kita dibanding hal-hal lain soal ekonomi, budaya, ketenagakerjaan apalagi soal politik. Tak usah saya sebutkan ya nama gadget tersebut, karena pembaca pasti sudah bisa menebaknya. Tak baik jadi agen promosi gratisan. Jadi selain sering bersitegang dengan Kemenkominfo soal penempatan server dan After Sales Service misalnya, gadget ini rupanya juga bisa menjadi salah satu sebab antrian yang bikin korban selain korban karena antri tiket sepakbola dan korban karena antri pembagian zakat. Ya betul, mungkin pers asing melihat ada keunikan di negeri kita. Padahal itu bukan keunikan kan ?</p>
<p>Lho apa hubungannya dengan judul tulisan diatas? Ya pasti ada. Pas menulis catatan ringan ini, saya memang sedang di Kota Revolusi, Yogya. Atau orang Yogya lebih bangga dengan sebutan Ngayogyakarta Hadiningrat. Sebutan Yogya sebagai Kota Revolusi memang beralasan, terutama ketika Pemerintah Pusat Republik Indonesia yang masih bayi, awal Januari 1946 diputuskan dipindahkan sementara ke Yogyakarta karena dinilai sudah tidak aman bagi pimpinan negara. Sultan, Kesultanan Yogya dan seluruh elemen masyarakat Yogya menerima dengan penuh hormat serta bangga atas amanah ini. Presiden Sukarno, Wapres Hatta dan seluruh Kabinet yang sudah terbentuk sesaat setelah Proklamasi, seluruhnya pindah ke Kesultanan Yogya. Bahkan seluruh keluarga mereka pun ikut serta. Serta merta negeri Mataram inipun menjadi pusat kegiatan pemerintahan dan sekaligus pemberitaan internasional. Itu sisi manisnya. Sisi pahitnya adalah Kota Yogya menjadi sasaran dua Agresi Militer Belanda di tahun 1947 dan 1948. Rakyat menjadi tameng hidup, pertempuran heroik terjadi dimana-mana, desa menjadi markas alam, kota menjadi bunker perlindungan dan Sultan Hamengkubuwono IX seringkali menjadi <em>a true national leader in emergency</em>. Beliau dan wilayahnya yang berdasar perjanjian dengan Belanda di tahun 1940 sebenarnya adalah negeri yang berdaulat penuh sesuai hukum internasional, pada September 1945 malah memilih menggadaikan masa depan kekuasaan politik dan wilayahnya dengan berdiri di belakang Sukarno-Hatta. Kecuali Tuhan, saat itu tak ada seorangpun yang tahu nasib Republik bayi itu. Jika tak ada pengakuan kedaulatan oleh Belanda di tahun 1949 di depan PBB, artinya Republik kembali dijajah Belanda dan Kesultanan Yogyakarta menjadi bagian Kerajaan Belanda. Sesuatu yang bertolak belakang dan mengingkari perjuangan pendiri Dinasti Mataram, Hamengkubuwono I yang karena sikap kerasnya menentang Belanda, akhirnya  tetap berhasil memiliki wilayah merdeka. Sebuah pengorbanan dan keteladanan kepemimpinan yang luar biasa dari Kanjeng Sultan IX ini untuk kelangsungan Indonesia di masa depan. Belum lagi harta Sultan HB IX yang dibagikan kepada keluarga para pejabat negara tersebut agar mereka tetap dapat menghidupi diri dan keluarga mereka. Mohon ya jangan dibandingkan dengan kualitas kepemimpinan sekarang.  Jika cara berpikir korporasi saya gunakan, Sultan HB IX mungkin saat ini adalah pemegang saham utama perusahaan yang bernama Indonesia Raya ini.</p>
<p>Lalu apa hubungannya dengan Kota Mendoan? Bagi yang belum tahu, Mendoan adalah makanan khas Kota Purwokerto. Kota di selatan Jawa yang masuk wilayah Kabupaten Banyumas, Propinsi Jawa Tengah. Makanan ini merupakan varian dari tempe. Cuma bentuknya lebih lebar dan tipis, serta biasanya dibungkus per dua buah. Makanan ini mantap sekali disajikan hangat-hangat ataupun panas. Pasangannya tentu saja cabe, sambel kecap atau bumbu pecel. Dihidangkan dengan teh panas, manis dan kental (nasgitel, panas legi kenthel; Jawa) dan diiringi hujan rintik-rintik, dijamin lidah orang darimanapun akan menyimpannya dalam memori kelezatan tiada tara. Ujung-ujungnya Mendoan akan menjadi favorit. Dan kota penghasilnya, Purwokerto, layak menyandang julukan Kota Mendoan. Kembali ke awal, yang mungkin belum banyak diketahui publik adalah ternyata Yogyakarta bukanlah pilihan pertama pada saat usul Ibukota Republik perlu dipindah. Jadi kota manakah yang saat itu jadi pilihan pertama?</p>
<p>Jika anda menebaknya Purwokerto yang dipilih, memang betul demikian faktanya. Dalam otobiografi Bung Hatta, <em>Memoar</em>, yang diterbitkan ketika usianya hampir 80 tahun, Hatta menyebut dengan jelas fakta ini. Ketika sidang kabinet memutuskan Ibukota Republik dan para pimpinan negara harus dipindah, pimpinan tentara yang diwakili Oerip Sumohardjo selaku Kepala Badan Keamanan Rakyat (BKR), cikal bakal TNI, dimintai pertimbangan atas hal ini dan menyampaikan usulan Kota Purwokerto sebagai Ibukota Negara sementara. Alasannya tentu ditinjau dari aspek militer seperti kondisi geografis, infrastruktur dan aspek pertahanan ketika diserbu. Tidak jelas darimana, usulan ini ternyata tidak disetujui dan ditetapkan Yogyakartalah yang menjadi Ibukota Negara sementara. Saya kira Presiden Sukarno memilih Yogyakarta karena aspek diplomatiknya sangat membantu perjuangan Republik di dunia internasional. Dan faktanya, dari sisi infrastruktur pun Yogyakarta juga jauh lebih memadai, meski memang lebih terbuka ketika menghadapi serangan udara. Dan sampai kinipun salah satu bagian Kesultanan Yogya yaitu Gedung Jene (Kuning) yang saat itu menjadi kediaman resmi Presiden Sukarno dari tahun 1946 &#8211; 1949 pun masih menjadi salah satu dari Istana Kepresidenan.</p>
<p>Kereta yang saya tunggu telah datang. Lamunan saya yang terbang puluhan tahun ke belakang ketika Yogya menjadi pusat perlawanan revolusioner, terhenti ketika suara Juru Perjalanan memecah keheningan malam di Stasiun Tugu. Meski tak sedahsyat sumbangan Yogya untuk Indonesia, rasanya boleh juga saya berbangga ternyata kota masa SMA saya, Purwokerto,  pernah menjadi kandidat Ibukota Negara semasa revolusi. Yogya, pasti ku akan kembali&#8230;</p>
<p>Januar Setyo Widodo<br />
(Uji coba upload dari mobile gadget)
<p><a href="http://januarsw.com/wp-content/uploads/2011/12/mendoan1.jpeg"><img class="alignnone size-full" src="http://januarsw.com/wp-content/uploads/2011/12/mendoan1.jpeg" alt="" title="mendoan.jpeg" width="259" height="194" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://januarsw.com/2011/12/kota-revolusi-dan-kota-mendoan-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tangan Tuhan dan Business Summit 2010 IKA ITS</title>
		<link>http://januarsw.com/2010/06/tangan-tuhan-dan-business-summit-2010-ika-its/</link>
		<comments>http://januarsw.com/2010/06/tangan-tuhan-dan-business-summit-2010-ika-its/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Jun 2010 13:35:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>januar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[business summit]]></category>
		<category><![CDATA[ika its]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://januarsw.com/?p=165</guid>
		<description><![CDATA[Dalam rangka ulang tahun ke-50 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya yang jatuh pada tanggal 10 Nopember mendatang, Ikatan Alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember (IKA ITS) menggelar Business Summit 2010 IKA ITS (Busum 2010 IKA ITS). Dengan mengusung tema, “ Mengembangkan Jejaring Bisnis Untuk Menguatkan Daya Saing Ekonomi Bangsa” telah usai dilaksanakan di Ballroom Hotel [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-167" style="margin: 10px;" title="busum ika 2010" src="http://januarsw.com/wp-content/uploads/2010/06/busum-ika-2010.jpg" alt="busum ika 2010" width="196" height="96" />Dalam rangka ulang tahun ke-50 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya yang jatuh pada tanggal 10 Nopember mendatang, Ikatan Alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember (IKA ITS) menggelar Business Summit 2010 IKA ITS (Busum 2010 IKA ITS). Dengan mengusung tema, “ Mengembangkan Jejaring Bisnis Untuk Menguatkan Daya Saing Ekonomi Bangsa” telah usai dilaksanakan di Ballroom Hotel Ritz Carlton, Pacific Place, SCBD, Jakarta Rabu (23/6) lalu. Dibuka Wakil Presiden RI, Prof. Boediono, gelaran ini menyedot peserta yang memenuhi seluruh ruangan ballroom. Yang tidak tertampung, karena terlambat atau kehabisan tiket, harus cukup puas mengikuti dari luar ballroom melalui beberapa panel televisi yang disediakan panitia. Ditaksir sekitar 650 orang hadir memenuhi pembukaan Busum 2010 IKA ITS ini. Wapres mengangkat isu keterkaitan perguruan tinggi dan kewirausahaan dalam kaitannya dengan daya saing  bangsa. Beliau sampaikan, tak akan maju suatu bangsa jika kalangan pengusaha atau entrepreneur di suatu bangsa jumlahnya tak signifikan. Karena itu, perguruan tinggi sudah harus menjadikan entrepreneurship bagian dari kurikulumnya. Setelah pembukaan, Stadium Generale yang selanjutnya sedianya dilaksanakan Menko Perekonomian Hatta Rajasa, diwakilkan kepada salah satu Deputy Menko, Pak Luki Eko Prawiro. Pak Luki banyak mengangkat potensi negeri kita jika dikaitkan dengan target pendapatan Rp 2000 Triliun pertahun untuk mencapai Rp 10.000 Trilun di akhir kepemimpinan SBY di 2014 dengan pertumbuhan ekonomi per tahunnya 7,7%. Setelah rehat makan siang, dua Business Chamber dilaksanakan secara parallel. Business Chamber A mengupas persoalan infrastruktur, <img class="aligncenter size-medium wp-image-173" title="wapres dan dwi s" src="http://januarsw.com/wp-content/uploads/2010/06/wapres-dan-dwi-s-300x225.jpg" alt="wapres dan dwi s" width="300" height="225" />perindustrian dan energy. Di paruh kedua sore itu, Menteri Pekerjaan Umum RI Djoko Kirmanto berkenan hadir sebagai salah satu panelis bersama beberapa panelis dari IKA ITS. Di Chamber B, persoalan ICT (Information and Communication Technology) dan Kelautan menjadi topik bahasan para panelis. Menteri Kelautan dan Perikanan RI Fadel Muhammad hadir bersama panelis lainnya di sesi pertama Chamber B ini. Menteri Kominfo RI Tifatul Sembiring hadir di sesi kedua. Beberapa catatan sudah dirangkum <em>Steering Committee</em> (SC) untuk kelima sektor itu. Sebagian diantaranya, langsung di-release ke publik begitu acara ditutup Menteri Pekerjaan Umum. Minggu depan ini, SC masih menyusun mozaik pemikiran yang terangkum menjadi kerangka yang utuh untuk diserahkan kepada pemerintah. Harapan yang ditunggu Wapres juga saat pembukaan. Hadir juga Menteri Pendidikan Nasional Muhammad Nuh yang juga merupakan Ketua Senat IKA ITS. Konten lainnya, dapat di-<em>search</em> di internet.</p>
<p>***</p>
<p><img class="alignright size-medium wp-image-169" style="margin: 10px;" title="logo-ika-baru" src="http://januarsw.com/wp-content/uploads/2010/06/logo-ika-baru1-199x300.jpg" alt="logo-ika-baru" width="199" height="300" />Gelaran akbar ini pertama kalinya buat IKA ITS. Mendatangkan seorang Wapres dan beberapa Menteri di satu even untuk membahas persoalan bangsa adalah hal cukup berat. Dirancang hampir dua tahun, gelaran ini akhirnya terwujud. Sebagai salah satu SC yang membidangi sektor ICT sesuai <em>background</em> saya, banyak hal berkesan dari gelaran ini. Rapat-rapat SC yang digelar hampir tiap minggu di Jakarta, menyisakan kenangan buat saya. Rapat yang melibatkan banyak senior saya dari berbagai <em>background</em> profesi ini menunjukkan pada saya, bahwa kekuatan terbesar dari sebuah keberhasilan adalah keyakinan akan keberhasilan itu sendiri. Disamping tentu saja, komitmen para penyelenggaranya. Seorang senior saya salah satu pimpinan perusahaan perminyakan swasta nasional, tekun sekali mengikuti rapat-rapat SC yang seringkali berakhir mendekati pergantian hari. Beliau selalu hadir. Malahan saya justru baru intens hadir di rapat-rapat SC sebulan sebelum pelaksanaan. Sebelumnya, koordinasi lebih sering saya ikuti melalui e-mail dan SMS. Saya terinspirasi sekali dengan beliau. Senior lainnya, politikus dari salah satu partai tiga besar pemenang Pemilu 2009, juga intens mengikuti setiap rapat SC yang digelar. Rapat SC terakhir sebelum penyelenggaraan malah digelar di kantornya Gedung DPR RI. Itu hanya dua yang saya ceritakan dari beberapa rekan SC lain yang meski tidak intens mengikuti rapat-rapat SC, tapi pasti memiliki kontribusi besar akan suksesnya gelaran lalu.</p>
<p>***</p>
<p>Gelaran yang besar pasti menyisakan cerita tak terlupakan dibaliknya. Pada rapat SC terakhir, setelah lima sektor tuntas diulas dan dibahas, persoalan yang dibahas justru masalah yang dihadapi <em>Organizing Committee </em>(OC) yakni mengenai lokasi Pembukaan Busum 2010 IKA ITS yang sudah dipastikan dibuka Pak Boediono, Wapres RI. Protokoler istana memang memiliki <em>code of conduct</em> sendiri. Pilihan tempat pembukaan ternyata menjadi dua. Pertama, dan ini harapan Panitia, dibuka langsung di Hotel Ritz Carlton. Pilihan kedua, dan ini muncul belakangan, justru dibuka di Istana Wapres, di Jalan kebon Sirih itu. Pilihan pertama membutuhkan prasyarat bahwa ballroom Ritz Carlton harus penuh yang berarti, menurut hitungan Protokol Istana, minimal dibutuhkan sekitar 500 orang. Jika kurang dari itu, maka jatuhlah pilihan kedua yakni pembukaan akan dilaksanakan di Istana Wapres yang berkapasitas 250 orang. Jika pilihan pertama yang dipenuhi panitia, hadangan terbesar cuma satu yaitu bagaimana memastikan gelaran ini bisa dihadiri minimal 500 orang. Tapi jika pilihan kedua yang diambil, yang menghadang panitia jadi dua : bagaimana mengubah informasi pelaksanaan pembukaan menjadi di Istana Wapres sementara di undangan yang tersebar sudah dicetak di Ritz Carlton, dan bagaimana ‘membagi’ peserta di kedua tempat yakni sebagian di Istana Wapres yang hanya berkapasitas sekitar 250 orang dan sebagian lagi di hotel Ritz Carlton bagi yang sudah terlanjur datang ke Ritz Carlton. Tapi tak mungkin yang ‘ditinggal’ di Ritz Carlton juga tak bisa mengikuti acara pembukaan. Maka, muncullah gagasan menggunakan teknologi video conference antara Istana Wapres dan ballroom Ritz Carlton. Putusan yang sulit, mengingat gelaran akbar tinggal empat hari, dan salah satu operator telekomunikasi yang dihubungi menyatakan tak sanggup memenuhi permintaan panitia. Malam itu, pada rapat SC yang terakhir, SC   memutuskan pembukaan tetap di Ritz Carlton.</p>
<p>***</p>
<p>Begitulah….Saya katakan melalui SMS kepada salah satu senior saya yang di OC menanggapi kekhawatirannya, bahwa yang sekarang kita lakukan hanyalah berusaha keras mendistribusikan undangan yang ada di sisa-sisa waktu dan berdoa dengan segenap keyakinan bahwa pada saatnya, Tuhan akan turun tangan. Tapi tentu tak seperti ‘Tangan Tuhan’ Diego Maradona di Final Piala Dunia 1986 yang membantunya memasukkan gol ke gawang Pieter Shilton dari Inggris dan membawa Argentina jadi Juara Dunia.</p>
<p>Seperti kata Prof. Yohannes Surya, pengasuh para Juara Olimpiade Fisika, jika keyakinan sudah sangat kuat, maka tak ada pilihan bahkan alam semesta pun turut mendukung… Wallahu’alam.</p>
<p>JANUAR SETYO WIDODO</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://januarsw.com/2010/06/tangan-tuhan-dan-business-summit-2010-ika-its/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>World Cup 2010 dan GANEFO</title>
		<link>http://januarsw.com/2010/06/world-cup-2010-dan-ganefo/</link>
		<comments>http://januarsw.com/2010/06/world-cup-2010-dan-ganefo/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Jun 2010 01:20:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>januar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[bung karno]]></category>
		<category><![CDATA[ganefo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://januarsw.com/?p=155</guid>
		<description><![CDATA[Piala Dunia 2010 telah dibuka 11 Juni kemarin di stadion Soccer City, Johannesbur, Afrika Selatan. Dengan diiringi atraksi pesawat jet, helaran bola paling akbar di planet bumi ini digelar sebulan ke depan. Dipastikan semua superhero bola dari berbagai Negara akan turun membela negaranya masing-masing. Sementara, lupakan dulu heboh video, Century atau malahan pemilihan Ketua KPK.
Ya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-156" title="world cup 2010" src="http://januarsw.com/wp-content/uploads/2010/06/world-cup-2010.jpg" alt="world cup 2010" width="124" height="124" />Piala Dunia 2010 telah dibuka 11 Juni kemarin di stadion Soccer City, Johannesbur, Afrika Selatan. Dengan diiringi atraksi pesawat jet, helaran bola paling akbar di planet bumi ini digelar sebulan ke depan. Dipastikan semua superhero bola dari berbagai Negara akan turun membela negaranya masing-masing. Sementara, lupakan dulu heboh video, Century atau malahan pemilihan Ketua KPK.</p>
<p>Ya, Piala Dunia sejak dulu memang pelepas penat. Tidak hanya bagi penggila bola, bahkan bagi yang tak suka bola pun Piala Dunia memberikan pengaruh. Paling tidak, penjadwalan ulang tidur dan ekstra pengeluaran untuk teman menonton. Afrika Selatan memang fenomenal. Setelah menyelesaikan rekonsialisi nasional antara korban politik apartheid dan pelakunya, Negara ini terus berbenah menuju masa depan. Lupakan segregasi ras, lupakan pertikaian dan pembunuhan. Songsong kemajuan dan kesejahteraan rakyat. Dan persetujuan FIFA untuk menjadikan Afrika Selatan sebagai penyelenggara bisa jadi milestone rakyat Afrika Selatan khususnya dan bagi benua Afrika bahwa mereka sudah mampu menggelar pesta skala dunia ini. Meski Nelson Mandela yang berpengaruh besar pada terpilihnya Afrika Selatan sebagai penyelenggara tak hadir pada pembukaan karena cucunya kecelakaan, even besar ini memang begitu membanggakan bangsa ras Negroid di manapun ia berada.</p>
<p>***</p>
<p>Beberapa waktu lalu, di jalan-jalan ibukota terpasang spanduk sangat menantang. Spanduk itu berisi permintaan dukungan kepada masyarakat agar tahun 2022 Indonesia bisa menjadi penyelenggara Piala Dunia. Tahun 2022 itu artinya dua belas tahun lagi atau tiga kali perhelatan piala dunia dilaksanakan, tiga kali ganti Presiden (kalau presidennya tidak dua kali menjabat),  baru Indonesia jadi tuan rumah. Tapi entah kenapa, pemerintah tak menyetujui gagasan itu. Konon, PSSI diminta fokus dulu membenahi dulu sistem dan prestasi bola Indonesia dulu, baru mikir soal dunia. Mungkin PSSI disuruh memberesi dulu dari soal supporter yang gampang rusuh, sampai korupsi yang menghancurkan internal PSSI. Mungkin pemerintah khawatir, karut marut persepakbolaan Indonesia bakal mempengaruhi persepsi FIFA (dan berarti persepsi dunia) soal kemampuan Indonesia. Ya sudah, raiblah spanduk-spanduk itu kini…Padahal, 2022 itu dua belas tahun lagi lho, bukan tiga atau empat tahun…</p>
<p><img class="alignright size-medium wp-image-157" title="Maket Gelora BK-edit" src="http://januarsw.com/wp-content/uploads/2010/06/Maket-Gelora-BK-edit-255x300.jpg" alt="Maket Gelora BK-edit" width="255" height="300" />Tahun 1962 Bung Karno menyatakan akan  mengadakan Olimpiade tandingan. Ceritanya, pada Asian Games 1962 di Jakarta, Indonesia melarang keikutsertaan Taiwan dan Israel. Pelarangan keduanya karena solidaritas. Yang satu solider dengan Cina, karena saat itu poros kita memang Jakarta-Peking dan Cina masih bermasalah dengan status kedaulatan Taiwan, bahkan sampai sekarang. Pelarangan Israel, jelas karena solidaritas kita pada Palestina. Rupanya, pelarangan ini diprotes oleh Komite Olimpiade Internasional (IOC). IOC mempertanyakan legitimasi Asian Games di  Jakarta itu. Bahkan Federasi Asian Games yang diketuai IOC juga menskors Indonesia untuk tidak dapat mengikuti Olimpiade karena kedua Negara tersebut,kata IOC, anggota resmi PBB. Tentu kita tahu sikap tegas Bung Besar ini. Ia tak bisa dilarang dan diancam begitu saja, apalagi jika menyangkut martabat negeri yang ia perjuangkan sejak muda ini. Ia marah dan memutuskan Indonesia keluar dari IOC dan menuduhnya sebagai antek imperialisme. Tidak hanya itu, Sukarno pun memutuskan akan membuat Olimpiade tandingan dengan nama GANEFO<em> (Games of The New Emerging Forces)</em>.  Untuk memujudkannya, dibangunlah Stadion Senayan &#8211; yang kini bernama gelora Bung Karno &#8211; yang konon saat itu dibangun dengan konstruksi atap sarang burung  termaju di jamannya. Arsitek dan insyurnya, dibantu Uni Sovyet yang kini sudah almarhum. Dananya diambil dari retribusi rakyat. Dari mulai parkir, tiket bioskop dan lain-lain. Bersamaan waktunya, dibangun pula Hotel Indonesia, Jembatan Semanggi serta pelebaran Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Moh Thamrin dan Jalan Jenderal Gatot Subroto. Akhirnya mimpi besar Soekarno untuk sejajar dengan bangsa-bangsa barat kolonialis terwujud. GANEFO terselenggara dengan sukses di akhir tahun 1963  yang diikuti 2200 atlit dari 48 negara Asia, Afrika, Amerika Latin dan Eropa dengan diliput sekitar 450 wartawan asing. Memang GANEFO diboikot negara-negara barat. Tak ada berita Ganefo disana, tapi saat itu Indonesia memang banyak teman, dihormati kawan dan jadinya memang disegani lawan, sehingga kecuali negara-negara barat, saat itu Ganefo menjadi <em>news of the world</em>.  Dengan mengusung semboyan Maju Terus Pantang Mundur  ! <em>(Onward, No Retreat !)</em>, GANEFO sukses besar. Saya yang lahir dari generasi 70-an masih ingat, begitu masyhurnya GANEFO ini, bahkan salah satu guru SMP saya, di sebuah sekolah di kecamatan kecil, memiliki nama akhir yang terinspirasi dari nama games dunia made in Indonesia ini. Tentu saja yang huruf “ o” diganti “ i ”, karena ia seorang ibu guru. Luar biasa.</p>
<p>Sayangnya, kondisi politik Indonesia, akhirnya membuat rencana pelaksanaan GANEFO ke-2 di tahun 1967 di Kairo, Mesir dibatalkan.</p>
<p>***</p>
<p>Betul kata Bung Karno, pada akhirnya olah raga memang tak bisa dipisahkan dari politik. Hitler pada Olimpiade Berlin 1936, ketika supremasi bangsa Aria jadi ideologi tak mau menjabat tangan Jesse Owen sang pelari pemenang dari Amerika Serkat yang berkulit hitam yang mengalahkan atlit Jerman. Olimpiade Munich 1976, bahkan diwarnai penculikan dengan latar belakang konflik Palestina &#8211; Israel. Jadi, jika olah raga juga politik, mestinya pemerintah kita tak perlu ragu-ragu mendukung gagasan Piala Dunia Indonesia di tahun 2022. Justru pencanangan ini akan membuat  kita terpacu, fokus dan mati-matian membuktikan bahwa Indonesia bisa bikin even bola dunia, bukan cuma bisa kirim TKI dunia atau malah masyhur karena video artis yang syur. Tak ada yang tak mungkin di dunia ini. Man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sunguh, akan berhasil.</p>
<p>Ah, itu kan kalau kita bukan bangsa tempe. Wallahu’alam.</p>
<p>JANUAR SETYO WIDODO</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://januarsw.com/2010/06/world-cup-2010-dan-ganefo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sekali Lagi Tentang Facebook</title>
		<link>http://januarsw.com/2010/06/sekali-lagi-tentang-facebook/</link>
		<comments>http://januarsw.com/2010/06/sekali-lagi-tentang-facebook/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Jun 2010 12:47:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>januar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://januarsw.com/?p=144</guid>
		<description><![CDATA[Tak terasa, sudah setahun lebih saya tak menulis. Waktu yang sangat lama untuk sebuah aktifitas blog. Meski sebenarnya, berkata-kata pun, ya menulis juga. Tapi ia verbal, tak dicatat dan bisa-bisa bikin keseleo si pemilik kata-kata kalau tak hati-hati. Kalau menulis, masih ada waktu sebelum tombol-tombol komputer kita ketik.
Baiklah, saya setuju bahwa menulis memang tidak mudah meskipun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-105" title="facebook1" src="http://januarsw.com/wp-content/uploads/2009/04/facebook1.jpeg" alt="facebook1" width="150" height="56" />Tak terasa, sudah setahun lebih saya tak menulis. Waktu yang sangat lama untuk sebuah aktifitas blog. Meski sebenarnya, berkata-kata pun, ya menulis juga. Tapi ia verbal, tak dicatat dan bisa-bisa bikin keseleo si pemilik kata-kata kalau tak hati-hati. Kalau menulis, masih ada waktu sebelum tombol-tombol komputer kita ketik.</p>
<p>Baiklah, saya setuju bahwa menulis memang tidak mudah meskipun tidak sulit juga. Ada ungkapan yang menarik jika mau menulis. Begini, mulailah menulis dengan hati, dan akhiri dengan pikiran.</p>
<p>Saya rasa ungkapan – yang saya lupa dari mana – itu memang tepat. Menggambarkan bagaimana sebuah tulisan harus mulai dirangkai. Nah, yang di hati saya saat ini adalah keprihatinan mendalam munculnya rekaman video dewasa yang melibatkan dua selebriti papan atas negeri ini yang konon dimulai disebarkan dari situs jejaring sosial paling beken, Facebook. Tak hanya itu. Pembahasannya yang berhari-hari dan memakan slot cukup banyak di segmen Infotainment, seringkali membuat saya harus memindahnya ketika si kecil buah hatiku tiba-tiba ikut menonton. Ah, ada-ada saja dunia hiburan Indonesia…</p>
<p>Lantas, adakah cara atau tip yang baik menggunakan Facebook ?</p>
<p>Berdasarkan pengalaman menggunakan situs jejaring sosial Facebook selama ini, beberapa hal yang saya catat perlu disadari dan dipersiapkan ketika bergabung di dalamnya adalah :</p>
<ol>
<li> <strong><em>Open Mind</em></strong>. Berpikirlah secara terbuka di sebuah situs jejaring sosial. Artinya, bersiaplah menghadapi situasi apapun karena sebuah komentar, foto, maupun video yang didalamnya melibatkan kita. Sadarilah bahwa Facebook sebenarnya sebuah ‘comment market’ alias pasar pendapat dari beragam orang dengan berbagai latar belakang yang mereka miliki. Makin banyak teman, tentu makin banyak komentar yang akan timbul. Tak perlu marah atau tersinggung terhadap sebuah komentar, tapi tak perlu ragu menggunakan fasilitas remove (buang) jika sebuah komentar benar-benar tak layak ditampilkan. Sebagaimana mereka berhak berkomentar, kitapun berhak pula membatalkan komentar mereka.</li>
<li><strong><em>Keep Your Style</em></strong>. Jagalah style anda secara konsisten, baik di dunia nyata (<em>off line</em>) maupun di dunia maya (<em>on line</em>). Menjaga style, bukan berarti menjaga imaji (bahasa pertemanan, jaim atau jaga image), berpura-pura ataupun menipu orang lain. Itu hal yang sama sekali berbeda. Menjaga style pada dasarnya memperkuat karakter kita. Terkadang, dunia jejaring sosial menjadi pelarian kita, namun lebih baik jika tetap berpandangan bahwa jejaring sosial tetaplah memiliki standar etika tertentu. Tiap orang akhirnya bisa menilai kita.</li>
<li><strong><em>Make Your Goal</em></strong>. Tetapkan tujuan berjejaring sosial. Ketika kita sudah menetapkan untuk apa kita memiliki sebuah akun pertemanan, maka poin pertama dan kedua diatas, makin relevan. Karena sebuah akun yang dibuat semata-mata untuk mengikuti trend, tentu berbeda jika dimaksudkan untuk bersilaturahmi alias melanjutkan pertemanan, persahabatan ataupun bahkan untuk tujuan bisnis. Atau tujuan politik sekalipun. Apalagi, jika dihubungkan dengan kasus video dewasa baru-baru ini, jelas akun Facebook yang dibuat memang hanya bertujuan khusus untuk ‘membunuh karakter’ kedua selebriti tersebut. Karena tak lama setelah kasus itu meledak di media utama (mainstream media), akun tersebut tak pernah terlihat dirawat.</li>
<li><strong><em>Maintain It</em></strong>. Terakhir, sesibuk apa pun atau sebaliknya, selonggar apa pun waktu kita, tetaplah rawat akun yang kita miliki. Seperti kebun bunga, jika sudah terlalu banyak rumput liar dan bahkan hama, segera lakukan perawatan secukupnya jikalau tak mau menjadikan kebun bunga dan ilalang bercampur. Karena itu, meng-<em>up date</em> status dan memberi komentar secukupnya juga bagian paling sederhana merawat akun kita. Meski tak perlu juga memaksa menulis sebuah status ataupun berkomentar jika memang tak perlu atau tak siap menulis sebuah status atau komentar. Atau, bisa juga mulai melakukan seleksi pada ‘teman-teman maya’ kita jika dirasakan memang perlu.</li>
</ol>
<p> </p>
<p>Sedikit catatan diatas, akan mengawali kembali aktifitas menulis saya.</p>
<p> </p>
<p>Semoga bermanfaat.</p>
<p> </p>
<p>JANUAR SETYO WIDODO</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://januarsw.com/2010/06/sekali-lagi-tentang-facebook/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mulai Dari Mana</title>
		<link>http://januarsw.com/2009/02/mulai-dari-mana/</link>
		<comments>http://januarsw.com/2009/02/mulai-dari-mana/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Feb 2009 10:53:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>januar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://januarsw.com/?p=72</guid>
		<description><![CDATA[Saya akhirnya paham mengapa kita perlu merdeka. Sebagaimana globalisasi versi modern yang menjadi flat (seperti kata Friedman di the World is Flat), dulu ketika masa Perang Dunia II (PD II) pun negara-negara baru bermunculan. Seperti tren mode yang menular dan kemudian menyebar cepat menjadi gaya hidup, sepertinya kelahiran negara-negara baru tersebut juga menjadi tren dunia. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://januarsw.com/wp-content/uploads/2009/02/proklamasi.png"></a>Saya akhirnya paham mengapa kita perlu merdeka. Sebagaimana globalisasi versi modern yang menjadi flat (seperti kata Friedman di the World is Flat), dulu ketika masa Perang Dunia II (PD II) pun negara-negara baru bermunculan. Seperti tren mode yang menular dan kemudian menyebar cepat menjadi gaya hidup, sepertinya kelahiran negara-negara baru tersebut juga menjadi tren dunia. Utamanya di Asia dan Afrika. Dekat sekali dengan berakhirnya PD II, adalah Republik Indonesia yang <span id="more-72"></span>lahir melalui proklamasi Sukarno-Hatta, 17 Agustus 1945. Setelah itu India di tahun 1948, lalu Cina. Momentum kemerdekaan tersebut pas dengan matangnya perjuangan domestik yang dipimpin para pemimpin negara-negara baru tersebut. Di India ada Gandhi dan Nehru, dan di Cina ada Mao Tze Tung. Semuanya bercita-cita sama : segera menciptakan kesejahteraan kepada rakyat yang selama ini menderita. Syaratnya adalah kemerdekaan. Jadi, kesejahteraanlah tujuan akhirnya. Tujuan akhir ini membutuhkan tujuan antara yaitu ada kemerdekaan politik, ada kemerdekaan ekonomi dan kemerdekaan hukum. Ketiganya, di masa kolonial memang selalu mengacu kepada kebijakan negara kolonialis. Di masa pra kemerdekaan, awal abad 20 memang ada Volksraad alias Dewan Rakyat, tapi bukan seperti Parlemen sekarang yang dipilih bebas tanpa rasa takut oleh rakyat. Anggota-anggotanya &#8211; baik yang orang Belanda apalagi pribumi &#8211; kesemuanya dipilih Pemerintah penjajah. Jadi hakikatnya tak ada kemerdekaan politik. Partai-partai yang tumbuh dari akar rumput dan menjadi wadah perjuangan seperti Syarikat Islam, Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Komunis Indonesia (PKI) bukanlah partai-partai yang dibentuk untuk mengikuti Pemilu seperti sekarang ini. Tapi murni wadah perjuangan para revolusioner itu sesuai ideologi partai dan pemimpinnya. Di masa pra kemerdekaan, memang juga ada pembangunan. Jalan Raya Daendels Anyer &#8211; Panarukan yang kesohor itu pun dibuat jaman penjajajahan. Bangunan-bangunan bergaya <em>art deco</em> di kota-kota yang sekarang menjadi kota-kota besar Indonesia, seperti Bandung, Medan, Semarang, Surabaya dan Jakarta pun dibangun dengan tata kota yang apik di jaman penjajahan. Jalur angkutan massal yaitu trem sudah ada di Jakarta jauh sebelum Indonesia merdeka. Jakarta yang sudah diketahui oleh Pemerintah kolonial Belanda lebih rendah dari air laut, sudah dibuatkan pencegahannya dengan banjir kanal barat yang dimulai dari Bogor. Tapi, apakah hasil akhirnya untuk rakyat Indonesia ? Tentu tidak. Hasilnya diperuntukkan bagi kenyamanan para warga Belanda yang kelak berminat tinggal di kota-kota besar tersebut. Perkebunan-perkebunan pun berkembang pesat. Hasilnya ? Diekspor ke Belanda untuk memenuhi kas Belanda sendiri. Sementara rakyat Indonesia cukup jadi kuli pemetik yang bergaji 2 gulden per bulan. Kemerdekaan hukum lebih-lebih lagi tidak mungkinnya. Hukum positif di Indonesia tentu saja diatur oleh hukum yang berlaku di Belanda. Malah lebih sadis lagi, karena di negeri jajahan terjadi politik segregasi dimana pribumi dan orang Belanda dibedakan layanannya. Bahkan untuk layanan publik seperti ketika menonton bioskop. Persis seperti <em>apartheid</em> di Afrika Selatan jamannya F.W. de Klerk. Meski segregasi ini tak terjadi di Belanda sendiri. Malah sampai dengan kemerdekaan kita di tahun 1945 itu, Kitab Undang-undang Hukum-nya masih menggunakan buatan Belanda. Maklum, tidak mudah mencetak sarjana hukum dalam jumlah cukup untuk melakukan transformasi hukum kolonial menjadi hukum negara merdeka.</p>
<p>Tapi coba bandingkan sekarang ini. Yang hampir 63 tahun Indonesia merdeka. Kemiskinan masih ada dimana-mana, pendidikan malah makin mahal. Pengangguran makin merajalela sebagai akibat tambahan krisis global. Korupsi dilakukan berjamaah dan merata di seluruh lembaga negara. Hukum menjadi mainan penegak hukum. Hukum tak kunjung menjadi panglima.</p>
<p>Jadi kenapa masih mau merdeka kalau sudah 63 tahun saja masih sengsara ? Mungkinkah kalau masih dijajah Belanda, kondisi negeri ini tidak seburuk seperti saat ini ?</p>
<p>Benar begitu ? Yang jelas sejarah tak mengenal pengandaian. Yang sudah terjadi itulah yang jadi sejarah. Kita tidak bisa berandai-andai misalkan jika tak ada Sukarni dan Chairul Saleh Cs, apakah proklamasi ya masih tanggal 17 Agustus ? Kita juga tidak bisa berandai-andai jika Belanda berhasil memenangkan agresi militer yang mereka lancarkan, apakah Indonesia masih ada ? Kita tidak bisa berandai-andai apakah Republik yang masih bayi merah itu kuat bertahan jika tak ada dukungan politik dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat untuk tanpa reserve berdiri di belakang republik hasil proklamasi Sukarno-Hatta itu ? Juga, kita juga tidak bisa berandai-andai jika Sultan Hamengkubuwono IX saat itu tidak &#8216;menggratiskan&#8217; Keraton Yogyakarta sebagai Istana Presiden dan memberi gaji pejabat negara Republik yang masih bayi itu dengan uang pribadi Sultan, para pejabat negara itu akan menyeberang ke Belanda karena himpitan ekonomi yang teramat dalam? Yang terjadi adalah sebaliknya. Karena itu, adakah yang perlu disalahkan dengan kondisi bangsa saat ini yang masih saja terpuruk ? Buat saya, tak perlu ada yang disalahkan. Ini kesalahan bersama kita semua (tapi bukan &#8216;Bersama Kita Salah&#8217; ya&#8230;). Rakyat bertanggungjawab karena mau dipimpin begitu lama dalam otoritarianisme dalam dua orde, lama dan baru. Sementara para pemimpin itu, terlena dengan tujuan utama bernegara karena mabuk kekuasaan. Hasilnya seperti sekarang. Demokrasi politik menjadi sangat boros. Pemilu ada dimana-mana, berbiaya besar dan tak tahu apa yang mau dicari. Pemimpin hasil Pemilu tak menjamin perubahan ke arah lebih baik. Sistem nyaris tak berubah. Untuk Pilkada Jatim di tahun 2008 yang sampai tiga kali saja (dua kali putaran ditambah Pilkada ulang di beberapa lokasi) menghabiskan Rp 830 miliar. Luar biasa ! Bayangkan jika uang itu untuk memperbaiki fasilitas pendidikan di Jawa Timur, terutama di kantong-kantong kemiskinan. Pasti akan memberi manfaat tidak sedikit.</p>
<p>Ekonomi kita, makin liberal. Ke arah pasar bebas tanpa kontrol. Dua pilar ekonomi, koperasi dan swasta tidak nyambung dengan misi BUMN. Masing-masing tidak mengabdi kepada amanat konstitusi untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Namun telah menjadi agen kapitalis yang mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Padahal kita negara Pancasila : tidak boleh ke kiri sekali (<em>etatisme</em>), juga tak boleh ke kanan sekali (kapitalisme). Tapi jangankan dipraktekkan, bahkan disebut dalam ruang publik pun Pancasila kini hampir tidak pernah diucapkan. Jangan-jangan, jika diambil sampel beberapa orang di jalan yang kita temui dan terus diminta menyebutkan lima sila Pancasila, tak pernah bisa tuntas menyebutkan &#8211; dan mengurutkan &#8211; sila-sila Pancasila yang sebenarnya sangat tinggi nilainya itu.</p>
<p><img class="alignright" style="float: right;" src="http://januarsw.com/wp-content/uploads/2009/02/jgn-menyerah3.jpg" alt="" width="541" height="758" />Jadi, mulai dari mana kita mau memperbaiki negeri kita ? Dan lantas, apa manfaatnya kemerdekaan yang sudah kita rebut ? Toh Malaysia yang kemerdekaannya diberi Inggris pada akhirnya juga mulai menuju tujuan akhir yaitu kesejahteraan rakyat. Satu yang pasti, kemerdekaan yang sudah kita rebut tak lain menjadi mercusuar spiritual bangsa kita bahwa bangsa kita telah menancapkan spirit kemerdekaan menuju masa depan yang lebih baik. Bahwa kemerdekaan yang diperoleh adalah hasil usaha nyata dan penuh darah serta nyawa anak-anak republik ini. Tidak gratis dan jatuh dari langit begitu saja. Kemerdekaan adalah mercusuar yang memberi arah jika kita mulai tersesat, mercusuar yang memberi penanda sudah sejauh mana kita melangkah. Karena keyakinan ini, kita percaya bahwa krisis di negeri kita ini pada akhirnya akan berakhir. Masa depan yang cerah, bukanlah impian. Pendidikan murah tapi berkualitas, pasti bukan khayalan. Pemimpin yang amanah, bersih dan sungguh-sungguh berjuang untuk rakyat, pasti disediakan Tuhan untuk Indonesia. Mercusuar kemerdekaan sudah kita tegakkan, sudah kita dirikan. Maka tak mungkin kita robohkan dan hancurkan. Ia harus tetap ada sepanjang denyut waktu. Dan jika mau memulai, cara terbaik memang dari diri kita sendiri. Karena inilah hal yang bisa kita atur, bisa kita ukur dan bisa kendalikan dengan baik. Itu ada dalam jangkauan kita. Jika tiap orang di negeri ini berbuat dengan sikap dan orientasi terbaik, di bidang apa pun, maka kumpulannya akan menjadi kekuatan positif dan memberi gelombang perubahan positif. Jika saya adalah tukang sapu, maka lakukankah tugas menyapu itu dengan baik sehingga hasil kerja kita menjadi bersih, enak dipandang mata dan membahagiakan orang lain. Jika ia menjadi politisi tingkat kota atau kabupaten, niatkanlah menjadi politisi sejati yang berjuang untuk rakyat yang memilihnya. Jika ia menjadi pengusaha, jadilah pengusaha yang pekerja keras, jujur dan peduli pada lingkungan dimana ia berbisnis. Jika ia menjadi orang tua, jadilah orang tua yang memberi inspirasi, menjadi panutan dan ditempatkan dengan rasa hormat oleh anak-anaknya. Jika kumpulan jika ini dilakukan secara sadar, bersama-sama dan terus menerus, niscaya luka dan keruwetan bangsa ini akan terurai secara alamiah.</p>
<p>Seperti kata Tolstoy, karena Tuhan itu tahu, namun IA menunggu&#8230;.Wallahu&#8217;alam&#8230;***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://januarsw.com/2009/02/mulai-dari-mana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bung Karno dan Ibuku</title>
		<link>http://januarsw.com/2009/01/bung-karno-dan-ibuku/</link>
		<comments>http://januarsw.com/2009/01/bung-karno-dan-ibuku/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Jan 2009 01:02:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>januar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[ali sastroamidjojo]]></category>
		<category><![CDATA[bung karno]]></category>
		<category><![CDATA[pni]]></category>
		<category><![CDATA[purwokerto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://januarsw.com/?p=51</guid>
		<description><![CDATA[Oleh JANUAR SETYO WIDODO
Kali ini saya ingin menulis sesuatu yang agak berbeda. Suatu ketika saya membongkar kembali dokumen foto-foto keluarga. Yang saya cari adalah sebuah foto lama tahun 60-an namun terasa begitu berharga bagi generasi tahun 40-an, dan barangkali, tentu bagi Ibuku sendiri. Foto itu ketemu.
Foto tahun 1963 itu adalah foto ketika ibuku yang saat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh JANUAR SETYO WIDODO<a href="http://januarsw.com/wp-content/uploads/2008/11/bung-karno-1.jpg"></a></p>
<p>Kali ini saya ingin menulis sesuatu yang agak berbeda. Suatu ketika saya membongkar kembali dokumen foto-foto keluarga. Yang saya cari adalah sebuah foto lama tahun 60-an namun terasa begitu berharga bagi generasi tahun 40-an, dan barangkali, tentu bagi Ibuku sendiri. Foto itu ketemu.<span id="more-51"></span></p>
<p>Foto tahun 1963 itu adalah foto ketika ibuku yang saat itu masih kelas 3 SMA di SMA Negeri 1 Purwokerto (almamaterku juga), bersama dua orang kawan pria yang mendampinginya, menjadi pembaca ikrar di hadapan Sukarno, Presiden RI pertama sekaligus salah satu proklamator kemerdekaan yang menghadiri acara Konggres Partai Nasional Indonesia (PNI), partai politik terbesar di jaman itu.</p>
<p><a href="http://januarsw.com/wp-content/uploads/2008/11/bung-karno-1.jpg"><img class="alignleft" style="border: 1px solid black; margin-left: 4px; margin-right: 4px; margin-top: 2px; margin-bottom: 2px; float: left;" src="http://januarsw.com/wp-content/uploads/2008/11/bung-karno-1-edit.jpg" alt="BK dan Ibuku-1" width="184" height="117" /></a>Yang ingin saya ceritakan adalah satu cerita kecil dibalik peristiwa yang melibatkan Ibuku dan sang Proklamator itu. Semuanya berawal ketika Ibuku tiba-tiba di suatu sore di tahun 1963 itu dihubungi panitia Konggres PNI di Purwokerto*) yang sekaligus mempersiapkan kedatangan Bung Karno (BK). Ibuku diminta menjadi pembaca ikrar Generasi Muda Front Marhaenis di hadapan Bung Besar ini. Ibuku tentu saja kaget : seorang ABG (Anak Baru Gede) akan bertemu BK yang saat itu begitu populer dan kharismatis sebagai pemimpin Indonesia. Selain tidak pernah terlintas sama sekali akan menerima tugas penting dan terhormat seperti itu, acaranya sendiri akan berlangsung esok harinya. Ya esok hari ! Alias tidak ada hari lain persiapan sama sekali sebagaimana layaknya mempersiapkan kedatangan seorang presiden. Ibuku tentu saja sedikit <em>nervous</em>, bagaimana bisa untuk acara yang sifatnya pasti nasional dan bakal diliput seluruh media di Indonesia itu Ibuku baru dihubungi persi<a href="http://januarsw.com/wp-content/uploads/2008/11/bung-karno-2-edit.jpg"></a>s sehari sebelumnya. Bagaimana kalau menolak ? Bagaimana kalau nanti gagal dan memalukan keluarga ? Begitulah kira-kira yang berkecamuk di benak Ibuku saat itu. Usut punya usut, sang panitia akhirnya bercerita bahwa sejatinya sudah ada seorang pembaca ikrar yang adalah putri salah seorang pimpinan PNI Cabang Kabupaten Banyumas. Namun setelah beberapa hari berlatih, sang calon pembaca ikrar itu tetap tidak sanggup mengatasi rasa <em>nervous</em> yang mendera, yang ditandai dengan situasi grogi berat pada saat sesi berlatih di depan teman-tem<a href="http://januarsw.com/wp-content/uploads/2008/11/bung-karno-1-edit.jpg"></a>an koor (paduan suara). Dan nampaknya kondisi ini tidak memungkinkannya untuk melanjutkan tugas penting tersebut. Walhasil, dicarilah kandidat pengganti hari itu juga yang pada akhirnya jatuh ke Ibuku (mengapa pilihannya jatuh ke Ibuku, mungkin juga ada cerita pendukung lainnya).<br />
Singkat cerita, jam itu juga, sore hari itu juga, Ibuku bersama Ketua Panitia Pak Karna Rajasa – putra Ali Sastroamidjojo, mantan Perdana Menteri dan Wakil Ketua MPRS &#8211; segera berangkat ke Issola (Istana Seni dan Olah Raga) Purwokerto untuk berlatih mempersiapkan diri (sekarang Issola sudah berganti menjadi pusat grosir Moro). Di perjalanan menuju Issola itu, pak Karna Rajasa sempat bertanya apakah Ibuku tidak grogi menerima tugas ini, yang dijawab, “<em>Insya Allah tidak Om</em>”.</p>
<p>Esok hari yang menegangkan namun meriah itu, Presiden Sukarno didampingi pejabat pemerintah pusat lainnya dengan diiringi sekitar 40 (empat puluh) Duta Besar, datang ke Purwokerto. Keluarga besar kami pun datang ke Issola. Purwokerto, kota kecil di selatan Jawa ini, hari itu dibanjiri rakyat yang datang juga dari luar daerah Purwokerto. Issola penuh, jalan-jalan macet dan padat karena ribuan orang berkumpul didalam maupun di luar gedung olah raga tersebut. Pembacaan ikrar Generasi Muda Front Marhaenis ini berlangsung sukses dan diikuti lebih kurang 400 pengikut koor yang dipimpin oleh Pak Kus Parwoto Supardi. Dan seperti biasa, Bung Karno pun melanjutkan dengan pidatonya yang ditunggu-tunggu rakyat di alun-alun Purwokerto.</p>
<p><a href="http://januarsw.com/wp-content/uploads/2008/11/bung-karno-2.jpg" target="_blank"><img class="alignright" style="border: 1px solid black; float: right;" src="http://januarsw.com/wp-content/uploads/2008/11/bung-karno-2-edit.jpg" alt="BK dan Ibuku-2" width="184" height="117" /></a></p>
<p>Beberapa hari kemudian, dokumentasi kedatangan Bung Karno – dan juga pembacaan ikrar oleh Ibuku – selama beberapa hari diputar setiap kali film akan dimulai di seluruh bioskop yang ada di Indonesia saat itu, termasuk bioskop di Purwokerto.</p>
<p>Saat ini Ibuku, Alhamdulillah, masih sehat walafiat dalam usianya yang ke-66 di awal tahun ini. Selamat ulang tahun Ibuku, semoga ALLAH SWT menjagamu dengan kesehatan dan kebahagiaan. Amin.</p>
<p><em>*) Beruntung kita hidup di jaman internet, ingatan Ibuku ini ternyata cocok dengan hasil browsing di <a href="http://gp-ansor.org/?page_id=34" target="_blank">http://gp-ansor.org/?page_id=34</a>, bahwa rupanya kehadiran BK di Purwokerto adalah dalam rangka Konggres X PNI yang berlangsung pada 28 Agustus s.d 1 September 1963.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://januarsw.com/2009/01/bung-karno-dan-ibuku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligence)</title>
		<link>http://januarsw.com/2009/01/kecerdasan-majemuk-multiple-intelligence/</link>
		<comments>http://januarsw.com/2009/01/kecerdasan-majemuk-multiple-intelligence/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Jan 2009 23:49:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>januar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://januarsw.com/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[Oleh JANUAR SETYO WIDODO
 
Orang tua, orang yang sudah punya anak atau orang yang sudah mulai merasa tua dan karena itu sering dimintai pandangan bagaimana memahami anak-anak atau bahkan hasil dari perilaku seseorang, kiranya perlu menelaah gagasan ini : setiap anak memiliki kecerdasan yang berbeda.
Kecerdasan yang berbeda, maksudnya setiap anak – yang normal secara intelektual tentunya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Oleh JANUAR SETYO WIDODO</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Orang tua, orang yang sudah punya anak atau orang yang sudah mulai merasa tua dan karena itu sering dimintai pandangan bagaimana memahami anak-anak atau bahkan hasil dari perilaku seseorang, kiranya perlu menelaah gagasan ini : setiap anak memiliki kecerdasan yang berbeda.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Kecerdasan yang berbeda, maksudnya setiap anak – yang normal secara intelektual tentunya &#8211; , pasti punya kecerdasan. <span id="more-68"></span><img class="alignright" style="float: right; margin: 2px;" src="http://januarsw.com/wp-content/uploads/2009/01/mi.gif" alt="" width="445" height="275" />Jadi, tidak benar ada anak yang bodoh atau malah dungu. Kesimpulan sederhana saya ini berangkat dari pendekatan Howard Gardner dari Universitas Harvard. Teori Gardner yang diintroduksi tahun 1983 ini untuk mengoreksi teori <em>Intelligences Question</em> (<em>IQ</em>) yang dikembangkan Alfred Binet di tahun 1909 lalu. Menurutnya, setiap orang memiliki satu atau lebih dari delapan jenis kecerdasan yaitu : Linguistik, Matematis-Logis, Spasial, Kinestetik-Jasmani, Musikal, Interpersonal, Intrapersonal dan Naturalis. Jenis kecerdasan yang disebutkan Gardner diatas, penjelasannya sesuai dengan nama jenis kecerdasan tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-indent: -0.25in; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list .25in;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-list: Ignore;"><span style="font-size: small;">1.</span><span style="font: 7pt ">      </span></span><span style="font-size: small;">Kecerdasan Linguistik (<em>word smart</em>) : ini kecerdasan yang terkait dengan kemampuan berbahasa. Baik dalam pengertian memahami sebuah rangkaian kata menjadi kalimat dalam sebuah bahasa tertentu maupun menggunakannya untuk menyampaikan maksud tertentu. Inilah salah satu kecerdasan yang banyak dijadikan acuan dalam test psikologi yang dikembangkan Binet. Ahli bahasa, penterjemah, penyuka sastra, mestilah punya jenis kecerdasan ini.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-indent: -0.25in; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list .25in;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-list: Ignore;"><span style="font-size: small;">2.</span><span style="font: 7pt ">      </span></span><span style="font-size: small;">Kecerdasan Matematis-Logis (<em>number smart</em>) : ini kecerdasan yang terkait dengan matematika dan pemikiran logis. Kecerdasan ini pun sering menjadi acuan dalam test psikologi ala Binet. Ilmuwan dan para peneliti pasti memilikinya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-indent: -0.25in; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list .25in;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-ansi-language: ES;" lang="ES"><span style="mso-list: Ignore;"><span style="font-size: small;">3.</span><span style="font: 7pt ">      </span></span></span><span style="font-size: small;">Kecerdasan Spasial (<em>picture smart</em>) : kecerdasan ini terkait dengan kemampuan mengekspresikan dunia spasial (ruang) dan kemudian mentransformasikan persepsinya itu. Karena itu kepekaan pada warna, garis, bentuk, ruang, hubungan antar unsur adalah kelebihan yang ada pada kecerdasan ini. <span style="mso-ansi-language: ES;" lang="ES">Pelukis, arsitek dan para desainer saya kira memang memiliki kecerdasan jenis ini.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-indent: -0.25in; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list .25in;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-ansi-language: ES;" lang="ES"><span style="mso-list: Ignore;"><span style="font-size: small;">4.</span><span style="font: 7pt ">      </span></span></span><span style="mso-ansi-language: ES;" lang="ES"><span style="font-size: small;">Kecerdasan Kinestetik-Jasmani (<em>body smart</em>) : kecerdasan menggunakan seluruh tubuh untuk mengekspresikan ide-perasaan, keterampilan menggunakan tangan untuk mencipta, dan kemampuan fisik yang spesifik seperti keseimbangan, kekuatan, kelenturan atau kecepatan. Olahragawan, para atlit dibekali kecerdasan ini.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-indent: -0.25in; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list .25in;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-ansi-language: ES;" lang="ES"><span style="mso-list: Ignore;"><span style="font-size: small;">5.</span><span style="font: 7pt ">      </span></span></span><span style="mso-ansi-language: ES;" lang="ES"><span style="font-size: small;">Kecerdasan Musikal (<em>music smart</em>) : kecerdasan mengapresiasi berbagai bentuk musik, membedakan, menggubah dan mengekspresikannya. Memiliki kepekaan terhadap irama, pola nada atau melodi dan warna atau nada suara suatu lagu adalah pemilik kecerdasan jenis ini. Komposer, para seniman musik pastiu dianugerahi bakat ini.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-indent: -0.25in; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list .25in;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-ansi-language: ES;" lang="ES"><span style="mso-list: Ignore;"><span style="font-size: small;">6.</span><span style="font: 7pt ">      </span></span></span><span style="mso-ansi-language: ES;" lang="ES"><span style="font-size: small;">Kecerdasan Interpersonal (<em>people smart</em>) : kecerdasan dalam mempersepsi dan membedakan suasana hati, maksud, motivasi serta perasaan orang lain. Memiliki kepekaan terhadap ekspresi wajah, gerak isyarat, kemampuan membedakan berbagai macam tanda interpersonal serta kemampuan mempengaruhi orang lain melakukan sesuatu. Para pemimpin yang kharismatis, orang-orang yang memiliki tingkat pergaulan yang luas, dipastikan memiliki kecerdasan jenis ini.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-indent: -0.25in; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list .25in;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-ansi-language: ES;" lang="ES"><span style="mso-list: Ignore;"><span style="font-size: small;">7.</span><span style="font: 7pt ">      </span></span></span><span style="mso-ansi-language: ES;" lang="ES"><span style="font-size: small;">Kecerdasan Intrapersonal (<em>self smart</em>) : kecerdasan dalam memahami diri sendiri dan bertindak berdasarkan pemahaman itu. Kesadaran akan suasana hati, maksud, motivasi, temperamen, keinginan, berdisiplin diri dan kemampuan menghargai diri adalah ciri-cirinya. Seseorang dengan kecerdasan ini, tentunya memiliki kepribadian yang stabil.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-indent: -0.25in; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list .25in;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-ansi-language: ES;" lang="ES"><span style="mso-list: Ignore;"><span style="font-size: small;">8.</span><span style="font: 7pt ">      </span></span></span><span style="mso-ansi-language: ES;" lang="ES"><span style="font-size: small;">Kecerdasan Naturalis (<em>nature smart</em>) : kecerdasan mengenali dan mengategorikan spesies flora dan fauna di lingkungan sekitar. Kepekaan terhadap fenomena alam lainnya, kemampuan membedakan benda tak hidup dengan benda hidup lainnya termasuk kecerdasan ini. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="mso-ansi-language: ES;" lang="ES"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="mso-ansi-language: ES;" lang="ES"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Sumbangan terpenting Gardner dibanding Binet sebenarnya adalah bagaimana memahami kemampuan seseorang secara utuh. Delapan kecerdasan diatas saya kira memang sudah bisa dikenali sejak seseorang masih berusia dini. Tinggal bagaimana stimulan yang diberikan orang tua, mampu memberi petunjuk kecerdasan mana yang memang memiliki porsi besar. Seseorang mungkin kuat dalam satu atau dua kecerdasan tertentu, tapi mungkin saja lemah dan bahkan buruk untuk kecerdasan lainnya. Seorang anak yang lahir dalam lingkungan yang sangat kondusif dalam satu kecerdasan tertentu, pada akhirnya akan terkondisi untuk kuat dalam salah satu kecerdasan tersebut. Maka tak heran, dari seorang keluarga yang gemar berenang, lahirlah perenang-perenang yang baik bahkan jika dibekali metode yang tepat, jadilah ia perenang profesional. Yang terpenting, selama sebuah kecerdasan memungkinkan untuk terus dikembangkan, maka tidak ada kata final menilai sebuah kecerdasan. Tidak hanya pada anak, bahkan mungkin pada orang dewasa. Di dunia yang makin kompleks, maka tipologi kecerdasan diatas, harapannya, bukanlah semata-mata untuk keunggulan pribadi dan pada akhirnya hanya memberi keuntungan pribadi, namun sejauh mungkin memberi kontribusi solusi kepada lingkungan. Itulah yang diperlukan Indonesia saat ini. <em>Wallahu’alam</em>.*** </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="mso-ansi-language: ES;" lang="ES"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://januarsw.com/2009/01/kecerdasan-majemuk-multiple-intelligence/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mahalnya Sebuah Komentar</title>
		<link>http://januarsw.com/2009/01/mahalnya-sebuah-komentar/</link>
		<comments>http://januarsw.com/2009/01/mahalnya-sebuah-komentar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Jan 2009 18:22:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>januar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://januarsw.com/?p=66</guid>
		<description><![CDATA[Oleh JANUAR SETYO WIDODO
Akhirnya Obama berkomentar terhadap krisis Gaza yang berawal dari serangan udara Israel tanggal 27 Desember 2008 lalu ke Jalur Gaza yang dikuasai Hamas. Kompas, Kamis (8/1) ini menurunkan berita tentang hal tersebut. &#8221; Seruan penghentian serangan Israel juga muncul dari Presiden terpilih AS Barack Obama. Setelah selama ini berdiam diri tidak menanggapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh JANUAR SETYO WIDODO</p>
<p><img class="alignleft" style="float: left; margin-left: 5px; margin-right: 5px; margin-top: 2px; margin-bottom: 2px;" src="http://januarsw.com/wp-content/uploads/2009/01/obama.jpg" alt="" width="98" height="132" />Akhirnya Obama berkomentar terhadap krisis Gaza yang berawal dari serangan udara Israel tanggal 27 Desember 2008 lalu ke Jalur Gaza yang dikuasai Hamas. <em>Kompas</em>, Kamis (8/1) ini menurunkan berita tentang hal tersebut. &#8221; Seruan penghentian serangan Israel juga muncul dari Presiden terpilih AS Barack Obama. Setelah selama ini berdiam diri tidak menanggapi isu Gaza, Obama akhirnya mengaku<span id="more-66"></span> khawatir dengan banyaknya warga sipil yang tewas di Gaza dan Israel. Bahkan, Obama juga berjanji akan mengupayakan perdamaian di kawasan Timur Tengah setelah ia resmi dilantik sebagai Presiden AS. Pernyataan Obama muncul setelah 40 orang tewas saat tank Israel menyerang sebuah sekolah PBB&#8221;, begitu cuplikan berita harian nasional ini. Obama kemudian bicara,&#8221;Setelah pelantikan 20 Januari mendatang, saya bisa bicara lebih banyak tentang isu ini. Saya akan menepati janji kampanye. Segera setelah pelantikan, kami akan terlibat aktif dan konsisten menyelesaikan konflik Timteng. Ini komitmen saya&#8221;.</p>
<p>Bagi saya, yang begitu terinspirasi dengan kemenangan Obama sebagai Presiden negara adidaya dari kaum minoritas &#8211; keturunan Afrika, berbapak Islam sehingga bernama tengah Hussein dan pernah sekolah SD di Indonesia -, kenyataan tak adanya komentar Sang Pemberi Harapan Dunia ini, cukup mengecewakan. Meski lambat, komentarnya kembali menaikkan &#8216;rating&#8217; dia di mata saya. Anie Lenox, artis Inggris dan Bianca Jagger, mantan istri vokalis Rolling Stones Mick Jagger ternyata juga gerah karena Obama sama sekali belum memberi komentar pada krisis Gaza yang sampai hari ini telah menewaskan 700-an warga Gaza dan ribuan korban luka. Kalau Presiden &#8216;Sepatu&#8217; yang bakal digantikannya , George W Bush, memang sudah bisa ditebak. Dengan nada tanpa dosa dan nurani, Bush justru menyalahkan Hamas yang dituding merusak perdamaian dengan memulai melontarkan roket Hamas ke wilayah Israel dan Israel punya hak mempertahankan diri. Ah, sudahlah. Soal komentar Presiden &#8216;Sepatu&#8217; ini tak usah dibahas, karena sebentar lagi &#8216;usia&#8217; kepemimpinannya yang ngawur akan berakhir tanggal 20 Januari nanti.<br />
Kenapa dunia menunggu komentar Obama ? Banyak hal melatarbelakanginya. Pertama, Sang Pemberi Harapan Dunia ini memang benar-benar menjadi harapan untuk berkomentar yang menyejukkan, memberi inspirasi dan syukur-syukur mendorong perdamaian segera terjadi di Palestina. Selama ini, pidato-pidatonya memang menggugah. Mungkin itu pula yang menyebabkan jumlah rakyat AS yang mengikuti Pemilu Presiden AS November 2008 lalu meningkat drastis. Karena mereka terinspirasi dan ingin mengubah keadaan negeri mereka melalui Obama. Kedua, jika kemudian Obama berkomentar dan komentarnya memenuhi harapan dunia, legalah kita semua bahwa ia memang akan membawa perubahan. Tidak hanya bagi bangsanya, tapi juga bagi dunia dengan kebijakan luar negerinya yang konon akan lebih toleran. Tapi jika komentarnya setali tiga uang dengan Presiden &#8216;Sepatu&#8217;, maka mungkin benarlah pendapat yang mengatakan siapapun Presiden AS, pada akhirnya ia akan menjadi boneka lobi Yahudi yang sudah merasuki semua elemen pembuat kebijakan di negeri adidaya tersebut. Yang artinya, mustahil mengharapkan sebuah harapan akan adanya perubahan yang selama ini menjadi tema kampanyenya. Yang ketiga, agak aneh buat pemimpin tingkat dunia seperti dia di tengah krisis dahsyat seperti krisis Gaza saat ini, tidak memberi komentar apa pun sebagai bagian dari tanggung jawab moral menjaga perdamaian dunia.<br />
Memang barangkali begitulah resiko menjadi pemimpin. Setiap kalimat, bahkan kata yang akan ia ucapkan memang memberi dampak luas, apalagi pemimpin sebuah negara paling kuat di planet bumi ini. Dari ucapannya, sebuah perang bisa masuk ke fase gencatan senjata, atau bahkan perdamaian. Tapi dari ucapannya pula, sebuah perang bisa dimulai.</p>
<p>Kita berharap krisis Gaza segera berakhir. Cukup sudah tangis dan kematian anak-anak tak berdosa itu serta kesedihan pilu para ibu mereka. Apapun jalannya : bersatunya semua faksi di Palestina terutama Hamas dan Fatah dalam menghadapi Israel, kuatnya peran Dewan Keamanan PBB menjaga perdamaian dunia, bersatunya sikap dan tindakan dunia Arab kepada Israel, maupun sikap AS yang mestinya lebih proporsional kepada Israel. Sebagai bagian dari warga dunia, wajar solidaritas rakyat Indonesia sangat tinggi kepada bangsa Palestina yang seumur hidupnya terus-menerus menderita. Apalagi konon, Al-Hajj Amin Al Husaini, Mufti Palestina, yang pernah menjadi tamu Hitler ketika berkuasa, adalah orang pertama yang menyiarkan kemerdekaan Indonesia di radio internasional.***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://januarsw.com/2009/01/mahalnya-sebuah-komentar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

