01.18.2009 Print This Post Print This Post

Bung Karno dan Ibuku

Oleh JANUAR SETYO WIDODO

Kali ini saya ingin menulis sesuatu yang agak berbeda. Suatu ketika saya membongkar kembali dokumen foto-foto keluarga. Yang saya cari adalah sebuah foto lama tahun 60-an namun terasa begitu berharga bagi generasi tahun 40-an, dan barangkali, tentu bagi Ibuku sendiri. Foto itu ketemu.

Foto tahun 1963 itu adalah foto ketika ibuku yang saat itu masih kelas 3 SMA di SMA Negeri 1 Purwokerto (almamaterku juga), bersama dua orang kawan pria yang mendampinginya, menjadi pembaca ikrar di hadapan Sukarno, Presiden RI pertama sekaligus salah satu proklamator kemerdekaan yang menghadiri acara Konggres Partai Nasional Indonesia (PNI), partai politik terbesar di jaman itu.

BK dan Ibuku-1Yang ingin saya ceritakan adalah satu cerita kecil dibalik peristiwa yang melibatkan Ibuku dan sang Proklamator itu. Semuanya berawal ketika Ibuku tiba-tiba di suatu sore di tahun 1963 itu dihubungi panitia Konggres PNI di Purwokerto*) yang sekaligus mempersiapkan kedatangan Bung Karno (BK). Ibuku diminta menjadi pembaca ikrar Generasi Muda Front Marhaenis di hadapan Bung Besar ini. Ibuku tentu saja kaget : seorang ABG (Anak Baru Gede) akan bertemu BK yang saat itu begitu populer dan kharismatis sebagai pemimpin Indonesia. Selain tidak pernah terlintas sama sekali akan menerima tugas penting dan terhormat seperti itu, acaranya sendiri akan berlangsung esok harinya. Ya esok hari ! Alias tidak ada hari lain persiapan sama sekali sebagaimana layaknya mempersiapkan kedatangan seorang presiden. Ibuku tentu saja sedikit nervous, bagaimana bisa untuk acara yang sifatnya pasti nasional dan bakal diliput seluruh media di Indonesia itu Ibuku baru dihubungi persis sehari sebelumnya. Bagaimana kalau menolak ? Bagaimana kalau nanti gagal dan memalukan keluarga ? Begitulah kira-kira yang berkecamuk di benak Ibuku saat itu. Usut punya usut, sang panitia akhirnya bercerita bahwa sejatinya sudah ada seorang pembaca ikrar yang adalah putri salah seorang pimpinan PNI Cabang Kabupaten Banyumas. Namun setelah beberapa hari berlatih, sang calon pembaca ikrar itu tetap tidak sanggup mengatasi rasa nervous yang mendera, yang ditandai dengan situasi grogi berat pada saat sesi berlatih di depan teman-teman koor (paduan suara). Dan nampaknya kondisi ini tidak memungkinkannya untuk melanjutkan tugas penting tersebut. Walhasil, dicarilah kandidat pengganti hari itu juga yang pada akhirnya jatuh ke Ibuku (mengapa pilihannya jatuh ke Ibuku, mungkin juga ada cerita pendukung lainnya).
Singkat cerita, jam itu juga, sore hari itu juga, Ibuku bersama Ketua Panitia Pak Karna Rajasa – putra Ali Sastroamidjojo, mantan Perdana Menteri dan Wakil Ketua MPRS – segera berangkat ke Issola (Istana Seni dan Olah Raga) Purwokerto untuk berlatih mempersiapkan diri (sekarang Issola sudah berganti menjadi pusat grosir Moro). Di perjalanan menuju Issola itu, pak Karna Rajasa sempat bertanya apakah Ibuku tidak grogi menerima tugas ini, yang dijawab, “Insya Allah tidak Om”.

Esok hari yang menegangkan namun meriah itu, Presiden Sukarno didampingi pejabat pemerintah pusat lainnya dengan diiringi sekitar 40 (empat puluh) Duta Besar, datang ke Purwokerto. Keluarga besar kami pun datang ke Issola. Purwokerto, kota kecil di selatan Jawa ini, hari itu dibanjiri rakyat yang datang juga dari luar daerah Purwokerto. Issola penuh, jalan-jalan macet dan padat karena ribuan orang berkumpul didalam maupun di luar gedung olah raga tersebut. Pembacaan ikrar Generasi Muda Front Marhaenis ini berlangsung sukses dan diikuti lebih kurang 400 pengikut koor yang dipimpin oleh Pak Kus Parwoto Supardi. Dan seperti biasa, Bung Karno pun melanjutkan dengan pidatonya yang ditunggu-tunggu rakyat di alun-alun Purwokerto.

BK dan Ibuku-2

Beberapa hari kemudian, dokumentasi kedatangan Bung Karno – dan juga pembacaan ikrar oleh Ibuku – selama beberapa hari diputar setiap kali film akan dimulai di seluruh bioskop yang ada di Indonesia saat itu, termasuk bioskop di Purwokerto.

Saat ini Ibuku, Alhamdulillah, masih sehat walafiat dalam usianya yang ke-66 di awal tahun ini. Selamat ulang tahun Ibuku, semoga ALLAH SWT menjagamu dengan kesehatan dan kebahagiaan. Amin.

*) Beruntung kita hidup di jaman internet, ingatan Ibuku ini ternyata cocok dengan hasil browsing di http://gp-ansor.org/?page_id=34, bahwa rupanya kehadiran BK di Purwokerto adalah dalam rangka Konggres X PNI yang berlangsung pada 28 Agustus s.d 1 September 1963.

One Response to “Bung Karno dan Ibuku”

  1. Muliawan Says:

    Apa yang diceritakan mirip dengan saya. Alangkah bermanfaat bila ini menjadi kenangan generasi penerus. Saya sedang membangun pohon keluarga di suatu situs yang mana ada profil Bung Karno juga. Nah saya sedang coba link profil Bung Karno pada event di mana keluarga saya juga hadir.

Leave a Reply

Free Blog Themes and Blog Templates