Print This Post
Seri Introspeksi Diri (8_selesai) : MENGGALI DARI BUMI NUSANTARA (2_habis)
Berikut adalah tulisan terakhir dari buku yang mengulas soal kepemimpinan Jawa ini yaitu ”Mengungkap dan Mengenal Budaya Jawa” karya Thomas Wiyasa Bratawijaya, pada Bab yang berjudul “Kepemimpinan Hasta Brata”. Sekaligus adalah Seri terakhir yang saya jadikan pamungkas dari Seri Introspeksi Diri di milis DPW ini.
Sebagai sebuah bahan introspeksi, mungkin 8 (delapan) serial selama ini amatlah sangat kurang. Masih banyak lagi mutiara yang harus digali dari berbagai sumber. Karena kebenaran itu tak memilih darimana ia muncul.
Namun, sebagai sebuah (pemicu) untuk meningkatkan kualitas kepemimpinan diri dan organisasi, mungkin bisa jadi starting point. Bahwa upaya meningkatkan kualitas kepemimpinan adalah upaya terus-menerus tanpa henti dan dimulai dari diri sendiri.
Singapura, 100 tahun la
lu adalah sebuah daratan tandus dengan penghuni yang tak berperadaban. Tapi, 100 tahun kemudian, penduduk Singapura sudah dinobatkan menjadi warga dunia terhormat yang yang aturan-aturan negaranya dipakai dan diacu makhluk manusia di planet bumi ini. Singapura telah bertransformasi menjadi negara yang beradab, kuat sekaligus kaya. Meski miskin sumber daya, dan miskin jumlah penduduk. Kepemimpinan menjadi satu faktor dominan penyebabnya.
Malaysia, baru 31 Desember 1965 merdeka dari Inggris. Bagaimanapun proses kemerdekaannya diperoleh, yaitu diberikan kemerdekaan dari Inggris raya, saat ini telah menjelma menjadi salah satu kekuatan penentu di Asia Tenggara. Dulu mereka belajar ke kita, sekarang kita belajar ke negeri jiran itu. Dulu mereka mencari kerja ke Indonesia, sekarang kita-lah yang mencari pekerjaan di sana. Meski untuk sekedar menjadi pembantu rumah tangga atau sekedar menjadi tenaga kasar di perkebunan kelapa sawit. Kepemimpinan, telah mengubah Malaysia menjadi seperti sekarang.
Indonesia, 100 tahun lalu masih menjadi Hindia Belanda. Terjajah, miskin, bodoh, terbelakang dan tanpa identitas di muka bangsa-bangsa di dunia. 100 tahun kemudian, Indonesia sudah menjadi identitas kenegaraan tapi sebahagian rakyatnya masih miskin, bodoh, terbelakang, korupsi menjadi ‘budaya’ dan menjadi ‘kuli’ (baca : TKI, TKW) bagi bangsa-bangsa lain, persis seperti 100 tahun lalu. Enam puluh satu tahun sejak tahun 1945, kemerdekaan politik yang diperoleh tidak lantas mengubah, mentransformasi Indonesia untuk segera berbenah menjadi negara sejati yang mensejahterakan rakyatnya. Kepemimpinan, pun menjadi satu faktor penyebabnya.
Pemimpin-pemimpin Indonesia saat ini tidak belajar dari sejarah. Padahal, Indonesia, Nusantara atau apa pun nama pra-Indonesia telah diwarisi oleh sebuah kekayaan batiniah luar biasa. Kita pernah menjadi Sriwijaya, yang armada lautnya begitu ditakuti di Asia. Kita pun pernah menjadi Majapahit yang kekuasaannya bahkan mencapai Madagaskar, Afrika bagian selatan.
Nah, Para Sekarist yang terhormat,
Sebagai bagian kecil dari lukisan Indonesia, dan sebagai bagian dari perjuangan kolektif kebangsaan, bersediakah kita menjadi mozaik yang memperindah Indonesia melalui Sekar Telkom atau Telkom ?
Sebagai bagian kecil dari lukisan Indonesia, bersediakah kita menjadi mozaik yang memperindah Indonesia melalui DPP Sekar Telkom atau DPW-1, atau DPW-2, atau DPW-3, atau DPW-4, atau DPW-5, atau DPW-6, atau DPW-7, atau DPW-Wilsus, atau DPW Long Distance, ataupun DPW ESCIS? Ataupun melalui seratus DPD Sekar Telkom yang tersebar di seluruh Indonesia ?
Wallahu’alam bissawab…
Kebenaran hanya dariNYA, kesalahan pasti dari saya adanya. Semoga bermanfaat, mohon maaf bila alpa.
SEKAR !!!
Salam “membangun kembali soliditas dan solidaritas”,
JSW
Berserikat Membuat Kita Kuat
* * *
HASTA BRATA #4/5
SABDHA PANDHITA RATU
Thomas Wiyasa Bratawijaya
Ungkapan ini selengkapnya berbunyi: “Sabdha Pandhita Ratu, sabdane Pandhita
Pangandikane Ratu datan kena wola-wali”. Artinya apa yang telah diajarkan
oleh Pandhita dan diucapkan oleh Raja tidak boleh diubah kembali, harus
konsisten. Hal tersebut dikarenakan bahwa apa yang telah diajarkan oleh
Pandhita sudah dijajaki kebenarannya sehingga tidak perlu diubah-ubah.
Sedangkan apa yang telah diucapkan oleh Raja adalah keputusan yang sudah
diproses, dianalisa dan dipertimbangkan masak-masak sehingga tidak perlu
ditambahi atau dikurangi. tinggal melaksanakannya saja. Seorang pemimpin
harus konsisten, yaitu harus ikut melaksanakan apa yang telah diucapkan.
Kata-kata dan perbuatan harus selaras, tidak perlu ragu-ragu dan tidak
terpengaruh oleh perasaaan saja. Karena bila seorang pemimpin sudah
terpengaruh perasaan maka mudah lupa apa yang telah diucapkan.
Ada sementara orang yang berpendapat bahwa “Sabdha Pandhita Ratu” adalah
otoriter yang mengarah pada tindakan seorang diktator. Pendapat ini kurang
benar. Bagaimana pun seorang Raja harus membuat keputusan yang tepat, cermat
serta cepat. Apa yang telah diputuskan sudah dipertimbangkan masak-masak dan
dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu apa pun yang telah diputuskan
oleh pemimpin harus dilaksanakan. Masyarakat Jawa sangat patuh pada apa yang
telah diputuskan oleh pemimpinnya dan segera melaksanakannya dengan penuh
perhatian. Hal ini bukan berarti orang Jawa hanya “sendika dhawuh”, atau
hanya menurut perintah pimpinan saja, tetapi memang telah menyadari bahwa
semua perintah dan keputusan pemimpin yang kurang dipahami perlu ditanyakan
agar ia sebagai anak buah tidak salah dalam melaksanakan tugas yang
diberikan.
* * *
HASTA BRATA #5/5
BERBUDI BAWALEKSANA
Thomas Wiyasa Bratawijaya
Sebenarnya ungkapan ini sebagai pelengkap ungkapan Sabdha Pandhita Ratu.
Artinya berbudi, ber berarti lebih, budi berarti perilaku yang menyinggung
nilai-nilai dan norma-norma luhur. Jadi seorang pemimpin harus memiliki
kelebihan dalam tata nilai, moral dan budi luhur.
Bawaleksana artinya menepati janji atau sumpah yang telah diucapkan. Seorang
pemimpin yang telah disumpah atau mengucapkan sumpah harus bermoral tinggi
untuk secara konsekuen melaksanakan apa yang telah diucapkan dalam
pelantikan sumpah jabatan. Berbudi dapat berarti seorang pemimpin harus
bermurah hati, senang memberi bantuan kepada anak buahnya yang mengalami
kesulitan. Tidak sebaliknya, seperti kenyataan sekarang, ada sementara
pemimpin malah minta upeti kepada anak buahnya dengan mengatakan, “mana
bagian saya?”
Bagi masyarakat Jawa, Bawaleksana memiliki nilai dasar yang luhur yaitu
memuat nilai-nilai keadilan, kebenaran, kejujuran dan mental. Dengan prinsip
ungkapan tersebut dalam menanggapi keadaan sekarang yang serba tidak
mengenakkan, kita perlu bersikap tidak perlu melawan arus atau menentang
arus, tetapi tidak boleh terbawa arus. Artinya, biarlah mereka berbuat
curang, menyeleweng dan korupsi, tetapi diri kita sendiri tidak perlu
ikut-ikutan. Yang jelas dengan memenuhi dan melaksanakan ungkapan
Bawaleksanan kita hidup senang, banyak kawan dan itulah sugih tanpa bandha.
* * *

Leave a Reply