05.9.2008 Print This Post Print This Post

Seri Introspeksi Diri (7/8) : MENGGALI DARI BUMI NUSANTARA

SEKAR !!!
Kita berjumpa lagi. Setelah sempat ‘terhenti’ beberapa waktu, kita sambung lagi diskursus kita di seri Introspeksi Diri ini. Masih tentang kepemimpinan, atau leadership yang akan selalu dan selalu menjadi topik hangat dalam komunitas masyarakat apapun latar budayanya.

Kali ini kita coba angkat nilai kepemimpinan di budaya Jawa. Bukan bermaksud mengunggulkan satu budaya lebih tinggi dari budaya lain, tentunya. Tetapi hanya sebuah referensi. Bahwa di masa Orde Baru budaya Jawa pernah dijadikan ‘azimat’ penguasa (baca : Soeharto) dalam mengendalikan Indonesia waktu itu. Banyak idiom-idiom kejawaan yang ia gunakan untuk melakukan pembenaran. Padahal, maksud sebenarnya tentulah bukan itu.
Rekan Sekarist pasti tahu ungkapan, ‘mikul dhuwur, mendhem jero’ atau harfiahnya setinggi-tinggilah kalau mengangkat, sedalalam-dalamnya kalau menimbun seringkali dipakai Soeharto untuk ‘membekukan’ lawan-lawan politiknya. Karena ungkapan inilah, Bapak Bangsa kita, Bung Karno, tidak pernah diadili. Statusnya diambangkan : tahanan politik, apa kesalahannya? Tahanan kriminal, apa kejahatannya ? Sukarno amat menderita di hari-hari terakhir hidupnya, di Wisma Yaso- Jakarta (sekarang Museum Satria Mandala). Diisolasi dan diputus dari sumber energi hidupnya, massa-rakyat.
Mungkin lain waktu kita angkat budaya kepemimpinan yang lain dari bumi nusantara yang begitu luas ini. Seperti, demokrasi asli Indonesia sebenarnya sudah jauh berurat akar di masyarakat Minang ketika memutuskan persoalan di masyarakat. Indonesia – dan dunia – sebetulnya harus berterima kasih kepada budaya Sumatera Barat ini. Tidak heran sebutlah Hatta, Muhammad Yamin, Sutan Sjahrir untuk menyebut tiga cendekia sekaligus pahlawan Indonesia yang lahir dari kultur demokratis Minang. Begitu juga bagaimana para pelaut Bugis yang gagah berani menaklukkan samudera, mewariskan kekerasan hati dan keteguhan sikap pada suku bangsa di daerah Celebes (Sulawesi) ini telah melahirkan Sultan Hasanuddin, Sang Ayam Jantan Dari Timur.
Masih banyak yang lain. Nah…kali ini, satu buku yang mengulas soal kepemimpinan Jawa ini yaitu “Mengungkap dan Mengenal Budaya Jawa” karya Thomas Wiyasa Bratawijaya, yang berjudul “Kepemimpinan Hasta Brata” akan kita sampaikan ke Sekarist yang terhormat sebagai referensi.
Siapa tahu bermanfaat.
Salam “membangun kembali soliditas dan solidaritas”,
JSW
Berserikat Membuat Kita Kuat
* * *

SIFAT DASAR KEPEMIMPINAN
Sifat dasar kepemimpinan ini selalu dilaksanakan oleh Sri Rama, raja
Pancawati, yang disebut “Hasta Brata”. Hasta artinya delapan. Brata artinya
perilaku atau sifat. Delapan sifat kepemimpinan tersebut adalah:

1–Sifat MATAHARI, matahari mengeluarkan panas, penuh energi dan memberi
sarana untuk hidup. Seorang pemimpin harus mampu memberi motivasi, semangat,
kehidupan dan kekuatan kepada seluruh anak buahnya.

2–Sifat BULAN, bulan bentuknya bulat indah, menarik hati dan bersifat
menerangi di dalam kegelapan. Seorang pemimpin harus dapat menyenangkan,
menarik hati dan memberi terang kepada anak buahnya.

3–Sifat BINTANG, bintang mempunyai bentuk indah dan menjadi hiasan langit
di waktu malam, serta alat penunjuk arah. Seorang pemimpin harus dapat
memberi petunjuk, pengarahan dan bimbingan agar anak buahnya mampu
menyelesaikan tugas dengan baik. Bintang adalah lambang ingat dan mengabdi
kepada Tuhan. Seorang pemimpin harus bertaqwa kepada Tuhan.

4–Sifat ANGIN, angin mempunyai sifat dapat mengisi setiap ruang yang
kosong. Seorang pemimpin harus bertindak cermat dan teliti serta tidak
segan-segan terjun langsung ke masyarakat. Selain itu, agar mampu membawa
suasana menyenangkan.

5–Sifat API, api bersifat membakar apa saja yang bersentuhan dengannya dan
tegas. Jadi seorang pemimpin harus mampu bertindak tegas dan adil tanpa
pandang bulu. Di samping tegas, seorang pemimpin harus mempunyai prinsip
konsisten serta dapat menahan emosi atau mengendalikan diri.

6–Sifat MENDUNG, mendung bersifat menakutkan, berwibawa, tetapi setelah
berubah menjadi air atau hujan, dapat menyegarkan semua makhluk hidup.
Seorang pemimpin harus menjaga kewibawaan dengan berbuat jujur, terbuka dan
memberikan yang bermanfaat bagi anak buahnya.

7–Sifat SAMUDERA, samudera mempunyai sifat luas dan dapat menampung apa
saja yang masuk ke dalamnya. Juga bersifat rata. Jadi seorang pemimpin harus
mempunyai pandangan luas, adil, mampu menerima berbagai macam persoalan,
tidak boleh pilih kasih, dan membenci golongan apa pun. Di samping itu,
seorang pemimpin harus berbesar jiwa dengan memaafkan kesalahan orang lain.

8–Sifat BUMI, bumi mempunyai sifat teguh, sentosa dan apa yang ditanam akan
menghasilkan yang bermanfaat untuk kehidupan. Jadi seorang pemimpin harus
berteguh hati dan selalu mampu meberi anugerah kepada siapa saja yang
berjasa.

***

HASTA BRATA #2/5
PERAN KEPEMIMPINAN HASTA BRATA
Thomas Wiyasa Bratawijaya

Berbagai peran yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin agar mendapat
dukungan secara mantap dan bertahan lama, hendaknya berpegang pada sifat
kepemimpinan yang dijalankan oleh Sri Rama yang disebut Hasta Brata tadi.
Seorang pemimpin harus dapat menjadi perhatian. Bila kepemimpinannya tidak
baik, tidak jujur dan berbuat korupsi jelas tidak mungkin dan tidak perlu
menjadi panutan. Perilaku pemimpin Jawa yang dapat menjadi panutan harus
mampu berperan atau berfungsi sebagai:

1–Komandan. Pemimpin harus mampu memerintah anak buahnya, bertindak tegas
dan berani tampil ke depan. Ia harus berdisiplin diri sebelum mendisiplinkan
anak buahnya, memberi arahan dan perintah disertai dengan petunjuk dan
pedoman yang jelas.

2–Pelopor. Pemimpin harus kreatif, penuh inisiatif dan bila perlu tampil ke
depan untuk membuka jalan dan mengatasi masalah yang timbul. Sebagai
pelopor, pemimpin harus memiliki intelegensi yang cukup tinggi, cakap dan
pandai mengatur strategi.

3–Bapak. Seorang pemimpin harus bijaksana dan adil. Pemimpin harus
mengayomi anak buahnya, memberi harapan kehidupan yang bahagia dan menjamin
kesejahteraan seluruh anak buahnya. Pemimpin harus mampu menciptakan suasana
tenang, tentram dan damai sehingga anak buahnya dapat melaksanakan tugasnya
dengan baik. Selain itu harus dapat membimbing anak buahnya agar dapat
mandiri dan bekerja benar.

4–Ibu. Seorang pemimpin harus memiliki rasa kasih sayang. Ia harus dapat
menampung aspirasi, keluhan, laporan dan informasi dari anak buahnya untuk
dianalisa sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan.

5–Guru. Seorang pemimpin dituntut mampu memberikan pendidikan, pengajaran
dan pelatihan pada anak buahnya guna kaderisasi. Guru merupakan sumber ilmu,
karenanya seorang pemimpin harus selalu belajar agar ilmu pengetahuannya
berkembang dan mempunyai visi yang jauh ke depan. Sebagai guru, seorang
pemimpin harus sabar dan dapat menilai secara obyektif hasil karya anak
buahnya.

6–Pandita. Seorang pemimpin harus taat dalam menjalankan ibadahnya dan
mendorong anak buahnya untuk melaksanakan ibadahnya sesuai dengan agama dan
kepercayaannya masing-masing. Pemimpin harus menanamkan moral, nilai-nilai
dan norma-norma yang berlaku.

7–Sahabat. Seorang pemimpin tidak perlu menjaga jarak dengan menjauhkan
diri dari anak buahnya. Sebagai sahabat, seorang pemimpin harus memiliki
keakraban, tenggang rasa, berdialog dalam memecahkan masalah yang terjadi.
Dengan keakraban, anak buah merasa dihargai sehingga timbul motivasi untuk
bekerja lebih giat dan bersemangat.

8–Satria. Seorang pemimpin harus melindungi dan mau berkorban demi
kebahagiaan anak buahnya. Yang terpenting dari seorang satria adalah rasa
malu untuk berbuat curang, menyeleweng, melakukan korupsi dan
menyalahgunakan wewenang.

Inilah yang perlu dikembangkan sebagai pemimpin panutan.

***

HASTA BRATA #3/5
TRILOGI KEPEMIMPINAN
Thomas Wiyasa Bratawijaya

Trilogi kepemimpinan ini sudah kita ketahui bersama, yaitu ajaran Ki Hadjar
Dewantara yang sangat populer. Namun demikian dalam tulisan ini perlu saya
ungkap secara sederhana. Isi trilogi tersebut adalah:

1–Ing ngarsa sung tuladha, artinya sebagai seorang pemimpin harus dapat
memberikan teladan baik terhadap anak buahnya yaitu dengan cara berdisiplin,
jujur, penuh toleransi dan bertindak adil.

2–Ing madya mangun karsa, artinya dalam melaksanakan tugas bersama-sama
anak buahnya, seorang pemipmpin harus mampu memberikan motivasi agar anak
buahnya senang melaksanakan tugas dengan baik. Pemimpin tidak hanya
memerintah saja tetapi ikut melaksanakan tugas bersama-sama dengan anak
buahnya agar sasaran dan tujuan bersama dapat tercapai dengan baik dan
memuaskan.

3–Tut wuri handayani, artinya seorang pemimpin harus bisa mendelegasikan
wewenang sesuai dengan kemampuan anak buahnya. Pemimpin harus memberikan
kepercayaan penuh pada anak buahnya. Selama anak buahnya mampu melaksanakan
tugas dengan baik, penui dedikasi dan tanggung jawab, maka pemimpin tinggal
merestui saja.

Sayang sekali banyak orang mengartikan negatif pada ajaran yang begitu baik
ini. Memang dalam penerapannya, banyak orang menyimpangkan trilogi
kepemimpinan Jawa ini, sehingga berakibat melecehkan. Trilogi ini hanya
ditulis derngan huruf-huruf yuang indah dengan bingkai mahal hanya sekedar
penghias ruangan kantor saja. Tetapi dalam kenyataannya mereka menafsirkan
secara sinis. Sebaiknya kita yang berbudaya tinggi bisa mengembalikan citra
trilogi yang sebenarnya.(bersambung)

***

One Response to “Seri Introspeksi Diri (7/8) : MENGGALI DARI BUMI NUSANTARA”

  1. m ihsan dacholfany (S-3 ukm 2006) Says:

    KEPEMIMPINAN MENURUT ISLAM

    1. PENDAHULUAN
    Persoalan kepemimpinan tidak pernah selesai untuk dibahas selama manusia masih ada dan selama bumi masih utuh. Dunia ini akan kacau balau kalau seandinya tidak ada pemimpin yang akan diikuti oleh orang atau masyarakat baik itu dalam konteks masyarakat kecil sampai kepada masyarakat besar sapai kepada tataran Negara sampai pada tataran Internasional, sehingga dengan adanya pemimpin manusia akan bisa teratur, berjalan sesuai dengan kapasitasnya masing-masing dan dapat melaksanakan aktivitasnya dengan kata lain semua komponen yang ada dalam masyarakat bisa managemen. Setiap orang memiliki potensi untuk menjadi pemimpin baik itu pemimipin dalam rumah tangga, masyarakat atau Negara setiap manusia minimal harus bisa menjadi pemimpin diri sendiri. Sebagaimana yang pernah disabdakan oleh Nabi Muhammad Saw : “setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya tentang apa yang dipimpinnya” Semakin banyak yang dipimpin, maka akan semakin besar pula tanggungjawabnya. Oleh karenanya, ada sebuah istilah umum yang tidak asing di telinga, “lebih baik menjadi pemimpin untuk diri sendiri”. Namun demikian bukan berarti dengan menjadi pemimpin bagi diri sendiri akan melepas tanggungjawab sebagai pemimpin. Karena setiap manusia dalam perjalanan hidupnya akan menemukan berbagai kemungkinan. Setiap manusia, normalnya, akan berkeluarga. Maka jadilah ia sebagai kepala keluarga. Islam sangat memperhatikan masalah kepemimpinan karena dalam sebuah perjuangan sangat membutuhkan dan mengutamakan mengutamakan jamaah.
    Tetapi dalam kesempatan ini kita hanya terfokus pada pembahasan kepemimpinan dalam konteks masyarakat, daerah yang sesuai dengan karakter dan budaya yang dimiliki. Indonesia sebagai sebuah negara yang memiliki luas daerah dan batas daerah masing-masing yang terdiri dari banyak suku, karakter, cara berfikir, prilaku atau pun budaya yang berbeda-beda sesuai dengan daerahnya masing-masing. Tetapi dengan keberagaman itu masyarakat Indonesia bisa bersatu dan berdaulat karena memang bangsa kita disamping memiliki karakter, budaya, cara berfikir yang berbeda juga memiliki cara pandang yang sama terhadap kepentingan bangsa Indonesia itu sendiri yaitu Indonesia bersatu yang memiliki tujuan yang sama dan kepentingan yang sama untuk kemajuan bersama, sehingga terciptanya masyarakat madani dan masyarakat yang tnagguh dan bernmartabat. Walaupun demikian setiap daerah di Indonesia memiliki karakter tersendiri dan budaya tersendiri yang tidak bisa disamakan oleh siapapun dengan dengan daerah lainnya. Maka dengan mengikuti setiap karakter masing-masing daerah memerlukan sebuah strategi kepemimpinan yang sesuai dengan karakter dan budaya yang dimiliki. Dalam artian setiap pemimpin harus paham dan sedikit banyaknya harus tahu dengan kondisi, budaya, dan karakter masyarakat daerah yang dipimpin. Karena hal ini akan mepermudah langkah untuk menjalankan pemerintahan atau kepemiminan yang akan dijalankan. Sebagai contoh masyarakat jawa memiliki sifat sangat patuh terhadap sosok atau seorang yang dianggap memiliki keistimewaan atau ilmu yang lebih dari yang lain. Dengan karakter ini barangkali pemimpin bisa aja menerapkan kepemimpinan otoriter.
    Dalam kesempatan ini penulis ingin memaparkan maksud dan tujuan dari penulisan makalah ini yang jelas tidak akan pernah bermaksud untuk memaksakan pemikiran untuk diikiuti melainkan untuk dipahami dan memberikan pandangan menurut pandangan islam.
    II. Definisi Kepemimpinan
    Kepemimpinan adalah proses mengarahkan perilaku orang lain kearah pencapaian suatu tujuan tertentu. Pengarahan dalam hal ini berarti menyebabkan orang lain bertindak dengan cara tertentu atau mengikuti arah tertentu. Wirausahawan yang berhasil merupakan pemimpin yang berhasil memimpin para karyawannya dengan baik. Seorang pemimpin dikatakan berhasil jika percaya pada pertumbuhan yang berkesinambungan, efisiensi yang meningkat dan keberhasilan yang berkesinambungan dari perusahaan.
    III. Tugas Pemimpin
    Seorang pemimpin cenderung menunjukkan pola-pola perilaku berikut :
    1. Merumuskan secara jelas peranan sendiri maupun stafnya
    2. Menetapkan tujuan yang sukar tapi dapat dicapai, dan memberitahukan orang-orang apa yang diharapkan dari mereka.
    3. Menentukan prosedur-prosedur untuk mengukur kemajuan menuju tujuan dan untuk mengukur pencapaian tujuan itu, yakin tujuan yang dirumusakan secara jelas dan khas.
    4. Melaksanakan peranan kepemimpinan secara aktif dalam merencanakan, mengarahkan membimbing dan mengendalikan kegiatan-kegiatan yang berorientasi pada tujuan.
    5. Berminat mencapai peningkatan produktifitas.
    IV.Konsep Pemimpin Menurut Pandangan Islam
    Surah Al-Baqarah ayat 30 dengan jelas menceritakan kisah diciptakannya manusia adalah untuk sebagai kholifah (pemimpin) di muka bumi . Allah Swt berfirman : “Sesungguhnya Aku (Allah) akan menciptakan kholifah di muka bumi…”(Al-baqorah : 30). Memimpin berarti mengemudikan dan mengarahkan. Seperti halnya mengemudikan kendaraan ada pengemudi dan ada penumpangnya. Pemimpin adalah pengemudi sedangkan penumpang adalah yang dikemudikan atau yang dipimpin. Baik atau buruknya yang dipimpin tergantung dari bagaimana si pengemudi mengendalikan kendaraannya. Sejahtera atau tidaknya suatu negara, tergantung dari kebijakan yang dilakukan oleh pemimpinnya. Sakinah atau tidaknya suatu keluarga, tergantung sikap kepala keluarganya. Mahmudah atau madzmumahnya akhlak seseorang, tergantung kepribadian seseorang itu sendiri. Disinilah letak tanggung jawab seorang pemimpin. Setiap pemimpin bertanggunjawab atas yang dipimpinnya.
    Ketika ingin memulai suatu pembahasan ada baiknya kita melakukan suatu pendefinisian atas pokok bahasan kita. Pendefinisian ini membantu kita untuk memahami dan mensistematiskan alur pembahasan. Kepemimpinan berasal dari kata pemimpin, yang artinya adalah orang yang berada di depan dan memiliki pengikut, baik orang tersebut menyesatkan atau tidak. Ketika berbicara kepemimpinan maka ia akan berbicara mengenai prihal pemimpin, orang yang memimpin baik itu cara dan konsep, mekanisme pemilihan pemimpin, dan lain sebagainya. Terdapat ragam istilah mengenai Kepemimpinan ini, adanya yang menyebutkan Imamah dan ada Khilafah. Masing–masing kelompok Islam memiliki pendefinisian berbeda satu sama lain, namun ada juga yang menyamakan arti Khilafah dan Imamah.
    Menurut Ali Syari’ati, secara sosiologis masyarakat dan kepemimpinan merupakan dua istilah yang tidak dapat dipisahkan. Syari’ati berkeyakinan bahwa ketiadaan kepemimpinan menjadi sumber munculnya problem-problem masyarakat, bahkan masalah kemanusiaan secara umum. Menurut Syari’ati pemimpin adalah pahlawan, idola, dan insan kamil, tanpa pemimpin umat manusia akan mengalami disorientasi dan alienasi.
    Ketika suatu masyarakat membutuhkan seorang pemimpin, maka seorang yang paham akan realitas masyarakatlah yang pantas mengemban amanah kepemimpinan tersebut. Pemimpin tersebut harus dapat membawa masyarakat menuju kesempurnaan yang sesungguhnya. Watak manusia yang bermasyarakat ini merupakan kelanjutan dari karakter individu yang menginginkan perkembangan dirinya menuju pada kesempurnaan yang lebih.
    V. Syarat-Syarat Kepemimpinan Dalam Islam
    Kepemimpinan setelah Rasulullah SAW wafat, merupakan pemimpin yang memiliki kualitas spiritual yang sama dengan Rasul, terbebas dari segala bentuk dosa, memiliki pengetahuan yang sesuai dengan realitas, tidak terjebak dan menjauhi kenikmatan dunia, serta harus memiliki sifat adil.
    Pemimpin setelah Rasul harus memiliki kualitas spiritual yang sama dengan Rasul. Karena pemimpin merupakan patokan atau rujukan umat Islam dalam beribadah setelah Rasul. Oleh sebab itu ia haruslah mengetahui cita rasa spritual yang sesuai dengan realitasnya, agar ketika menyampaikan sesuatu pesan maka ia paham betul akan makna yang sesungguhnya dari realitas (cakupan) spiritual tersebut. Ketika pemimpin memiliki kualitas spiritual yang sama dengan Rasul maka pastilah ia terbebas dari segala bentuk dosa.
    Menurut Murtadha Muthahhari, umat manusia berbeda dalam hal keimanan dan kesadaran mereka akan akibat dari perbuatan dosa. Semakin kuat iman dan kesadaran mereka akan akibat dosa, semakin kurang mereka untuk berbuat dosa. Jika derajat keimanan telah mencapai intuitif (pengetahuan yang didapat tanpa melalui proses penalaran) dan pandangan bathin, sehingga manusia mampu menghayati persamaan antara orang melakukan dosa dengan melemparkan diri dari puncak gunung atau meminum racun, maka kemungkinan melakukan dosa pada diri yang bersangkutan akan menjadi nol. Saya memahami apa yang dikatakan Muthahhari derajat keimanan telah mencapai intuitif dan pandangan bathin ini adalah sebagai telah merasakan cita rasa realitas spiritual. Dengan adanya kondisi telah merasakan cita rasa realitas spiritual, maka pastilah Rasulullah SAW dan Imam Ali Bin Abi Thalib beserta keturunannya tadi terbebas dari segala bentuk dosa.
    Kondisi ini juga akan berkonsekuensi pada pengetahuannya yang sesuai dengan realitas dari wujud atau pun suatu maujud. Ketika pemimpin tersebut mengetahui realitas dari seluruh alam, maka pastilah ia tahu akan kualitas dari dunia ini yang sering menjebak manusia.
    Kemudian seorang pemimpin haruslah juga memiliki sifat adil. Rasulullah SAW pernah berkata bahwa, ”Karena keadilanlah, maka seluruh langit dan bumi ini ada. Imam Ali Bin Abi Thalib mendefiniskan keadilan sebagai menempatkan sesuatu pada tempatnya yang layak. Keadilan bak hukum umum yang dapat diterapkan kepada manajemen dari semua urusan masyarakat. Keuntungannya bersifat universal dan serba mencakup. Ia suatu jalan raya yang melayani semua orang dan setiap orang. Penerapan sifat keadilan oleh seorang pemimpin ini dapat dilihat dari cara ia membagi ruang-ruang ekonomi, politik, budaya, dsb pada rakyat yang dipimpinnya. Misalkan tidak ada diskriminasi dengan memberikan hak ekonomi (berdagang) pada yang beragama Islam, sementara yang beragama kristen tidak diberikan hak ekonomi, karena alasan agama. Terkecuali memang dalam berdagang orang tersebut melakukan kecurangan maka ia diberikan hukuman, ini berlaku bagi agama apapun.
    Jalaluddin Rakhmat dalam buku Yamani yang berjudul, filsafat Politik Islam, menyebutkan bahwa secara terperinci seorang faqih (pemimpin) harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
    a. Faqahah, mencapai derajat mujtahid mutlak yang sanggup melakukan istinbath hukum dari sumber-sumbernya.
    b. ’adalah : memperlihatkan ketinggian kepribadian, dan bersih dari watak buruk. Hal ini ditunjukkan dengan sifat istiqamah, al shalah, dan tadayyun.
    c. Kafa’ah : memiliki kemampuan untuk memimpin ummat, mengetahui ilmu yang berkaitan dengan pengaturan masyarakat, cerdas, matang secara kejiwaan dan ruhani.
    Islam menghendaki setiap pemimpin menjadi suri tauladan bagi rakyatnya. Seperti halnya Nabi Muhammad Saw yang diatuladani oleh umatnya. Tanpa akhlaknya yang luhur, Nabi Muhammad tidak akan disebut sebagai suri tauladan yang baik, sebagaimana difirmankan Allah Swt dalam Al-Quran. Sebagaimana ayat Al-Quran yang tertulis diawal, ada empat hal pokok yang menjadi acuan untuk menjadi seorang pemimpin sejati. Jika ke-empatnya dijalankan, maka seorang pemimpin akan menjadi pemimpin sejati. Empat hal itu menunjukkan hubungan yang seimbang antara pemimpin sebagai hamba ALLAH SWT dan sebagai makhluk.
    Pemimpin mendirikan Sholat. Sholat adalah salah satu bentuk ibadah yang mencerminkan hubungan antara hamba dengan sang Kholik-nya (Allah Swt). Sholat menjadi ibadah yang paling utama untuk membangun hubungan antara hamba dan Kholiknya. Dengan mendirikan Sholat, berarti seorang pemimpin telah melaksanakan tanggungjawabnya sebagai hamba Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala-galanya.
    Pemimpin menunaikan Zakat. Selain Sholat, Zakat juga merupakan salah satu ibadah yang diwajibkan dan termasuk dalam rukun Islam. Namun demikian ada perbedaan antara zakat dan sholat. Zakat mencerminkan jiwa pemimpin yang sensitif dengan persoalan sosial. Jika Sholat merupakan ibadah yang mencerminkan hubungan hamba dengan Kholik-nya saja, maka Zakat mencerminkan hubungan seorang hamba dengan kholiknya dan dengan hamba ALLAH yang lainnya baik itu yang seiman maupun yang tidak. Seorang pemimpin semestinya tanggap dengan kondisi dan persoalan yang dihadapai oleh masyarakat. Karena memang fungsi yang paling esensi dari seorang pemimpin itu terletak pada sifat sosial yang dimiliki. Karena sifat-sifat inilah yang memang telah dicerminkan oleh Rasulullah SAW terhadap semua makhluk ciptaan Tuhan tanpa pandang bulu melihat konteks dan status.
    Pemimpin memerintahkan pada yang ma’ruf dan mencegah yang munkar. Memerintahkan pada yang ma’ruf dan mencegah kemunkaran merupakan sebuah perintah Allah Swt kepada setiap hamba. Pemimpin harus memiliki jiwa yang tegas dalam mengeluarkan kebijakan, dan tentunya kebijakan itu tidak merugikan orang lain. Menegakkan amar makruf mungkin akan lebih mudah karena memang konteks ini hanya menyuruh orang untuk melakukan kebaikan, beribadah kepada Allah terlepas orang menerima atau tidak. Tetapi mencegah kemungkaran tidak semudah amar makruf, karena memang dalam konteks ini membutuhkan sebuah kekuatan, bekal yang mantap untuk mencegah kemungkaran, karena itulah seorang pemimpin harus tegas dan berani dalam menegakkan kebenaran dan sanggup menyuarakan kebernaran walaupun ada tekanan dari berbagai pihak yang tidak suka dengan kebenaran dan keamanan ditegakkan di tengah-tengah masyarakat.
    Pemimpin menyerahkan kepada Allah atas kesudahan segala urusan. Poin terakhir ini tidak kalah penting dengan tiga point sebelumnya. Point ini menunjukan bahwa seorang pemimpin harus bertawakkal kepada Allah Swt. Manusia hanya bisa berusaha dan berdoa, sedangkan Allah Swt yang mengabulkan usaha dan permintaannya. Oleh karenanya, setiap manusia tidak boleh sombong. Sesuatu yang dikehendaki tidak akan terjadi tanpa izin Allah Swt. Dengan memperhatikan empat hal tersebut, maka seorang pemimpin, baik pemimpin bagi orang lain maupun pemimpin untuk diri sendiri, harus bertaqwa kepada Allah Swt, memperhatikan keadaan yang dipimpin, bersikap tegas dalam kebajikan, dan bertawakkal kepada Allah Swt atas setiap usaha yang dilakukan dan disertai dengan.
    Empat hal tersebut bukanlah sesuatu yang sulit untuk dilaksanakan. Semuanya merupakan acuan yang mesti dilaksanakan oleh seorang pemimpin agar menjadi seorang pemimpin yang bertanggungjawab baik kepada orang lain, terlebih lagi kepada Allah Swt. Karena seorang pemimpin tidak hanya bertanggung jawab kepada yang dipimpin. Pemimpin juga bertanggungjawab kepada yang memberikan amanah tersebut yakni Allah Swt. Pemimpin yang hanya bertanggungjawab kepada manusia akan menjadi pemimpin yang “pincang”. Karena pada hakikatnya, posisi sebagai pemimpin adalah amanah yang Allah Swt berikan. Tidak semata-mata karena manusia. Manusia hanya wasilah. Maka pertanggungjawaban seorang pemimpin yang sesungguhnya adalah kepada Allah Swt. Sejahtera atau tidaknya warganegara, sakinah atau tidaknya sebuah keluarga, baik-burknya akhlak manusia, semuanya dipertanggungjawabkan kepada Allah Swt.
    Disamping itu semua seorang pemimpin harus juga memiliki keahlian (skill) yang mesti termanifestasikan dalam diri seorang pemimpin. Skill yang mesti dimiliki seorang pemimpin dalam menjalankan tugasnya lain seorang pemimpin harus memiliki komunikasi yang verbal, dapat memeneg waktu dengan baik sehingga waktu tidak ada yang sia-sia, dapat memeneg pengambilan keputusan sehingga keputusan yang diambil tidak tergesa-tergesa dan keputusan tersebut memang tepat sesuai kebutuhan. Mengakui, menjelaskan dan memecahkan persolan yang dihadapi, dapat memotivasi dan mempengaruhi orang lain. Mendelegasikan wewenang, dapat menetapkan tujuan dan menjelaskan visi, memiliki kesadaran diri bahwa pemimpin memiliki tanggung jawab, membangun kerja tim yang solid, dan dapat memeneg konflik yang dihadapai sehingga tidak terjadi perpecahan dalam masyarakat.
    Hukum-hukum Allah adalah suatu keniscayaan yang mengatur ummat manusia, yang membantu manusia dalam mencapai realitas kebahagiaan. Hukum-hukum Allah ditegakkan agar keadilan dan kebenaran dapat terjamah oleh orang-orang yang tertindas dan terdzalimi. Sekarang ini untuk terjaganya hukum-hukum Illahiah yang mengatur kehidupan umat manusia dan masyarakat, maka di butuhkan seorang pemimpin yang memiliki pengetahuan luas tentang hukum Allah dan keadilan, akhlak yang mulia, matang secara kejiwaan dan ruhani, kemampuan mengatur (mengorganisasi), dan memiliki pola hidup yang sederhana. Intinya pemimpin haruslah wujud dari hukum Islam itu.
    VI. Kriteria Pemimpin
    Sebagai langkah awal dalam memahami pemimpin yang tepat untuk diperhatikan sebagai seorang calon-calon pemimpin adalah ada lima kriteria minimal yang harus dipenuhi yakni :
    a. Pertama : Beriman
    Pemimpin jangan hanya beriman ketika hanya berkampanye dengan mendatangi ulama-ulama, pesantren-pesantern atau lembaga keagamaan lainnya, tetapi ketika sudah menjadi seorang pemimpin lupa dengan komitmennya dan tidak mau tau dengan kondisi umat. Nilai-nilai luhur kepemimpinan yang diajarkan oleh Islam tidak akan bisa dijalankan kecuali oleh orang-orang yang benar-benar beriman bukan mukmin gadungan yang selalu berubah sesuai dengan arah angin kencang hanya untuk kepentingan pribadi atau golongan semata.
    b. Kedua : Memiliki Keahlian (Skill)
    Seorang pemimpin yang ideal harus memiliki visi dan misi yang jelas dan realistis sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Sehingga memang memiliki kemampuan untuk memimpin dan membangun Sumatra utara yang bermoral dan bermartabat. Kemampuan atau keahlian merupakan syarat mutlak untuk menjalani amanah pemimpin. Rasulullah juga telah mengingatkan kita bahwa setiap pekerjaan itu harus diserahkan kepada ahlinya, jika tidak maka tunggu kita tinggal menunggu waktu kehancurannya (HR. Muslim).
    c. Ketiga : Bisa Diterima Dalam Masyarakat
    Keahlian yang teruji ditambah dengan integgritas pribadi yang terpuji membuat seseorang menjadi mudah diterima ditengah-tengah masyarakat. Seseorang memiliki cacat di mata masyarakat tidak layak untuk menjadi seorang pemimpin terlebih berkaitan dengan masalah moral.
    d. Keempat : Tidak Arogan, Otoriter, dan Mau Menerima Masukan
    Seorang Pemimpin harus memiliki pandangan bahwa dirinya adalah pelayan bagi masyaraktnya. Hidupnya senantiasa menghabiskan hari-harinya untuk kepentingan masyarakat. Tidak sombong apalagi bergaya Fira’un.
    e. Kelima : Berkualitas. Baik dari Segi Fisik, Mental dan Intelektual
    Pengetahuan dan wawasan yang luas, mental dan fisik yang sehat sangat menentukan dan membantu seorang pemimipin dalam mejalani kepemimpinannya untuk memecahkan berbagai persolan yang dihadapi. Seorang pemimpin harus memiliki jenjang pendidikan yang telah dijalani untuk menunjukkan keintelektualitasnya. Rasulullah juga telah memberikan kita gambaran bahwa seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah Swt ketimbang seorang mukmin yang lemah.
    Maka sudah jelas kiranya bahwa strategi yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin dalam menjalani kepemimpinannya, agar nantinya roda kepemimpinan bisa berjalan dengan baik dan berhasil dengan banyak memberikan kontribusi dan dapat membangun masyarakat yang sejahtera, makmur dan bermartabat adalah dengan memnguasai konsep-konsep kepemimpinan yang Islami seperti yang dijelaskan di atas.

    DAFTAR PUSTAKA
    1. Al-Milal wan-Nihal I/24 atau lihat Dr Ali As-Salus, Imamh dan Khilafah dalam Tinjauan Syar’i, Gema Insani Press.
    2. Haidar Bagir dalam Ali Syari’ati, Ummah dan Imamah, Bandung, Pustaka Hidayah, 1989
    3. Murtadha Muthahhari, Manusia dan Alam Semesta, Lentera
    4. Dr. Ali As-Salus, Imamah dan Khilafah Dalam Tinjauan Syar’i,Gema Insani Press, Jakarta 1997
    5. Andi Anas, Konsep Wilayah Al-Faqih menurut Imam Khomeini, Skripsi pada Fakultas Ushuluddin Jurusan Perbandingan Agama UNISBA, 2006
    6. Imam Khomeini, Sistem Pemerintahan Islam, Pustaka Zahra, Jakarta, 2002
    7. Armanu Thoyib.2004. Strategi Managemen Konflik Dalam Organisasi Multibudaya, Jurnal Managemen dan Bisnis(JMB) Vol.1,No.1

Leave a Reply

Free Blog Themes and Blog Templates